Description
Bagi sebagian orang Kitab Pengkhotbah adalah kitab yang “sulit” untuk dibaca. Bukan karena panjangnya — hanya 11
pasal, kok. Juga bukan karena kata-katanya rumit — kata-kata pengkhotbah cenderung lugas. Namun, yang jadi masalah adalah tone (atau nada) kitab ini yang cenderung depresi, penuh dengan kata kesia-siaan, yang membuat orang ingin men-skip saja kitab ini dari bacaan Alkitab mereka.
Padahal, Kitab Pengkhotbah sangatlah relevan dengan zaman kita sekarang. Walaupun ditulis tahun 940-931 SM, kebenaran yang ada di dalamnya tentang pergumulan eksistensial manusia masih sangat relate dengan kita di zaman modern. Manusia pada dasarnya tetap sama, di zaman mana pun dia hidup. Pergumulan akan tujuan hidup, pekerjaan, kesenangan, kefanaan hidup adalah sesuatu yang tidak akan lekang oleh waktu. Itu adalah pergumulan yang sudah dimulai ribuan tahun lalu dan akan terus digumuli sampai ribuan tahun ke depan. Itulah yang membuat Kitab Pengkhotbah menjadi unik dan pantas untuk dibaca.
Memang membaca Kitab Pengkhotbah secara sekilas akan membuat kita merasa ikut depresi. Namun, jika kita membacanya menggunakan lensa Injil maka kita akan melihat keindahan dari kitab ini. Dan itulah yang saya ingin bagikan kepada Anda lewat buku ini. Saya tidak akan membahas Pengkhotbah dari sisi sastranya atau dari hikmatnya, atau bahkan dari sisi relevannya. Saya akan membahas Pengkhotbah — pasal demi pasal, ayat demi ayat — dari lensa Injil, sehingga Anda akan bisa melihat bahwa kitab yang “depresi” pun dapat menjadi indah ketika dilihat dengan lensa yang tepat.










Reviews
There are no reviews yet.