Bagaimana rasanya mengemban sebuah “beban panggilan yang mulia”? Mungkin kita bisa melihat teladan dari Yusuf dan Maria.
From Zero to Hero
Ketika merenungkan kisah Natal, saya teringat dengan karakter Loki, seorang karakter fiksi dalam Marvel Cinematic Universe yang dikenal sebagai God of Mischief (Dewa Pengacau). Pada awal kemunculannya, Loki digambarkan sebagai sosok antagonis yang narsistik. Mottonya “I am Burdened with Glorious Purpose” (aku memikul beban panggilan yang mulia) lahir dari ambisi egois dan haus kekuasaan atas kehidupan orang lain. Hasrat itu didasari kecemburuannya terhadap Thor—saudaranya—yang lebih disayang Odin, ayahnya. Kecemburuan itulah yang memicu Loki terobsesi pada takhta sebagai wujud pembuktian bahwa Loki pun bisa seperti Thor. Loki memakai berbagai macam siasat termasuk menipu untuk mencapai ambisinya. Tidak heran jika ia dijuluki God of Mischief. Namun, serial Loki menampilkan transformasi karakter yang terjadi padanya.
Berlatar krisis multi-semesta akibat kerusakan Temporal Loom (mesin kosmik raksasa yang menenun waktu), Loki dihadapkan dilema moral: memusnahkan varian realita demi stabilitas garis waktu atau membiarkan varian semesta hidup dengan risiko ancaman. Akhirnya, Loki memutuskan mengorbankan dirinya. Ia menjadikan dirinya sendiri Temporal Loom, mengawasi dan menjaga multi-semesta yang terus bertumbuh. Pada akhirnya, Loki benar-benar menjadi raja, sang God of Stories. Ia menanggalkan ambisinya, menerima kesendirian abadi, dan memikul “beban mulia” demi keberlangsungan miliaran kehidupan.
Pasangan yang Mengemban Tantangan Sekaligus Penggenapan
Maria hanyalah perempuan biasa. Tiada yang istimewa padanya. Status sosial menurut standar Yudaisme dan Romawi tentang perempuan pada zamannya begitu menyedihkan. Perempuan dianggap “kelas dua” di bawah laki-laki dan dianggap pribadi rentan yang tak berdaya. Kesaksian perempuan juga tidak diperhitungkan. Selain itu, kalau memerhatikan potret janda pada seluruh narasi Alkitab, janda dikaitkan dengan kemiskinan. Sebab para istri biasanya hidup bergantung sepenuhnya dengan suami. Kalau suaminya meninggal, istrinya akan kesulitan memenuhi kebutuhannya karena status sosial pada zaman itu sulit mendukung kestabilan hidup perempuan. Hanya segelintir saja perempuan yang beruntung dapat hidup sejahtera.
Tidak hanya Maria, Yusuf sendiri adalah pria biasa yang berprofesi sebagai tukang kayu. Tiada yang spesial dalam kehidupan seorang tukang kayu pada zaman itu. Dalam Alkitab sendiri, kiprah Yusuf sedikit sekali disorot. Namun mereka berdua mendapatkan visi langsung dari Allah bahwa mereka akan mempunyai anak yang tidak “umum” daripada anak-anak pada biasanya, yang akan disebut “Imanuel”. Matius 1:18 menerangkan bahwa relasi mereka berdua barulah pada tahap tunangan. Menurut tradisi Yahudi, ikatan pertunangan sudah dianggap pernikahan karena pasangan yang sudah bertunangan pasti akan lanjut ke tahap pernikahan – demikian Matius mengatakan mereka belum hidup bersama.
Namun berita yang “mengguncang” Yusuf datang dari Maria; yaitu bahwa ia hamil, padahal Yusuf belum pernah bersetubuh dengan Maria. Secara manusiawi, jika berada di posisi Yusuf, mungkin pertanyaan pertama yang akan terlontar adalah: “Kamu habis tidur dengan siapa?” Saya sebagai laki-laki pun pasti akan menanyakan pertanyaan itu yang diiringi perasaan kecewa. Mungkin, saya juga akan merespons dengan: “Tidak mungkin ada perempuan yang tiba-tiba hamil tanpa persetubuhan”.
Namun, Matius menjelaskan kepada kita bahwa Yusuf adalah orang yang tulus hatinya. Respons pertama terhadap kehamilan Maria adalah menceraikannya. Ketulusan Yusuf diwujudkan berupa tindakannya yang ingin menceraikan Maria secara diam-diam tanpa diketahui oleh banyak orang. Menurut aturan Yahudi, apabila perempuan dan laki-laki diketahui massa telah berzinah, hukumannya adalah mati (Ul. 22:22). Yusuf tahu aturan ini, ia bukan pelaku zina. Makanya ia ingin menceraikan Maria secara diam-diam. Tindakan demikian sangat jelas bahwa Yusuf hendak melindungi Maria – ia ingin Maria tetap hidup walaupun hatinya terasa perih.
Sebelum keputusannya terjadi, Malaikat memberitahu Yusuf dalam mimpinya agar ia jangan menceraikan Maria. Anak yang dikandung Maria bukan hasil perzinahan melainkan berasal dari Roh Kudus. Berdasarkan penglihatan yang diterima, Yusuf tidak jadi menceraikan Maria dan mengambilnya menjadi istrinya. Komitmen Yusuf turut terlibat dalam visi ini juga diiringi dengan tidak menyetubuhi Maria sampai Ia melahirkan Yesus.
Sementara itu, mari cermati dari perspektif Maria di Lukas 1:26-32. Ketimbang Yusuf, Maria menanggung kosekuensi lebih berat. Ada dua kosekuensi sosial berat yang Maria akan pikul. Pertama, kalau saja ada masyarakat yang mengetahui bahwa Maria hamil sedangkan ia dengan Yusuf belum sah bersuami, maka penghakiman sosial dari masyarakat berupa gosip dan fitnahan akan menimpa Maria. Misalnya seperti, “Lho, bukannya Maria belum sah dengan Yusuf? Mereka pasti berzinah”. Maria akan menjadi topik pembicaraan banyak orang.
Kedua, jika fitnahan terhadap Maria terdengar oleh ahli Taurat dan orang Farisi yang mempunyai otoritas memutuskan hukum, maka Maria juga akan menerima hukuman. Sedetik pun tiada situasi aman bagi Maria sendiri. Kapan saja ada potensi Maria akan dirajam. Ancaman itu pun tidak berakhir setelah Maria bersalin. Baik Maria dan Yusuf masih dihantui kebengisan Herodes Agung. Herodes Agung menerbitkan dekrit bahwa bayi-bayi berusia di bawah dua tahun harus dibunuh di Betlehem. Tujuannya dikarenakan Herodes takut posisinya digantikan oleh Yesus. Herodes ingin membunuh Yesus – orang Majus menyebut Yesus di hadapan Herodes sebagai raja Yahudi. Tidak terbayangkan betapa stresnya pasangan ini melewati macam tantangan.
Di balik penggenapan Natal yang meriah yang kita sambut, Maria dan Yusuf membayar harga sangat mahal. Maria dengan sukarela memberikan rahimnya menyambut kedatangan Allah. Ia tahu kosekuensi mengemban visi itu begitu berat. Demikian dengan Yusuf. Ia rela menahan hasrat seksualnya dengan istri terkasih. Pasangan ini bekerja sama melewati momen rentan secara mental dan fisik dalam rangka misi penyelamatan. Mereka ikut serta dalam rancangan mulia tersebut guna menuntaskan nasib kekekalan banyak jiwa dalam bumi ini.
Kemuliaan Disingkapkan Melalui Keterbatasan
Alih-alih melibatkan orang yang mentereng reputasinya ataupun orang hebat yang diajak berpartisipasi dalam puncak misi penyelamatan, Allah justru melibatkan orang-orang yang biasa saja, bahkan mereka yang tidak diperhitungkan keberadaannya menurut standar dunia yang semakin hedonis dan narsis. Tidak seperti Loki yang dibekali privilege berupa kekuatan menyambut beban mulia. Maria dan Yusuf malah menyambut beban mulia dengan kerentanan beserta kosekuensi beban mental dan fisik.
Kisah Natal membungkam standar dunia yang menekankan bahwa mereka yang kuat dan punya kuasalah yang akan menang. Allah melibatkan orang-orang yang rentan untuk menyingkapkan keindahan terselubung – Kristus. Natal tidak selalu diidentikan bahwa kita harus selalu bersukacita. Mungkin bulan ini kita mengalami ketakutan dan ratapan yang tidak bisa terkatakan. Tidak masalah! Allah sering memakai momen itu justru sebagai kesempatan bertemu Dia melalui secara pribadi. Tidak selamanya kita mengalami sukacita. Demikian tidak selamanya kita hanyut dalam ratap. Kristuslah sumber harapan.
Di balik itu, semuanya akan indah pada waktu-Nya. Ada sukacita yang dipersiapkan. Natal memang bukan untuk disambut dengan hingar-bingar serta kesibukan kegiatannya. Mulanya, Natal justru dirayakan dengan kesederhanaan. Sukacita adalah sikap hati, bukan sekadar perasaan atau ekspresi yang ditentukan suasana.
Sukacita kita dipicu kehadiran pribadi Allah yang menjadi manusia yang membersamai kita. Kontribusi Natal tidak terlepas dari Allah yang hidup membersamai semua orang – tidak terkecuali mereka yang terpinggirkan dan tidak dianggap. Momen Natal merupakan kesempatan terbaik agar kehidupan kita boleh hadir dan menemani mereka yang tidak berdaya. Peristiwa Natal bukan memikirkan “apa yang aku dapat”, tetapi bagaimana hidup kita mampu memberi daya bagi orang lain.
Penulis: Gilbeth Pramana Saputra*
Penyunting: Yemima GP
(Penulis adalah peserta dari tantangan menulis Natal tahun 2025 bersama Pena Murid dengan tema Membaca Ulang Natal Lewat Wajah-Wajah yang Terlupakan)
