Berjumpa dengan Yesus

Literatur Perkantas Jatim Cerita Pendek Berjumpa dengan Yesus
0 Comments

Maka kembalilah gembala-gembala itu sambil memuji dan memuliakan Allah karena segala sesuatu yang mereka dengar dan mereka lihat, semuanya sesuai dengan apa yang telah dikatakan kepada mereka. (Luk. 2:20)

 

Malam itu gelap pekat, namun hati Hagia sangat bahagia. Ia jalan pulang diantar seorang gembala. Mendekati rumahnya Hagia mendengar namanya disebut, suara kencang Mamanya berseru-seru memanggilnya. Dia melihat pada Om Samuel, gembala itu.

“Tuh, kan, kamu dicari Mama kamu,” Om Samuel memandang Hagia dan muka lucu. “Baik-baiklah sama orangtua”.

“Mama… aku disini,” panggil Hagia.

“Hagia… darimana, Nak? Siapa pula itu?” tanya Mamanya Hagia.

“Mama, aku punya cerita yang luar biasa. Om Sam dan teman-temannya datang dari padang ke kandang menengok Bayi Yesus Juruselamat manusia. Mereka semua senang sekali karena Yesus telah ada di hati mereka. Om Sam dan teman-temannya lewat sini sambil menyanyi kencang memuji Tuhan. Trus aku tegur. Mereka menceritakan semua itu.

Aku minta diantar ke kandang. Aku juga mau berjumpa dengan Yesus tapi mereka tidak bisa karena mereka harus kembali ke padang sebelum fajar tiba.”

“Lalu, apa yang terjadi sampai kamu bahagia seperti ini?” tanya Mamanya Hagia.

Hagia memegang tangan mamanya. “Mereka berdoa agar Yesus lahir di hatiku. Saat itu hatiku terasa tenang damaaaiiii sekali. Aku merasa Yesus ada di hatiku jadi aku hepiiii sekali, Ma,” Hagia memeluk Mamanya.

Oh, begitu,” Mamanya menanggapi. “Tapi tadi kamu dari mana?”

“Aku memaksa Om Sam mengajakku jalan sambil bernyanyi supaya semua orang mendengar dan tahu Yesus lahir.” kata Hagia.

“Hagia, kamu ini merepotkan Om Sam,” kata Mamanya. “Maafkan anak saya, ya. Kami sibuk sekali tidak perhatikan dia,”

“Tidak apa-apa, Bu, kami senang, ada beberapa teman Hagia dan keluarganya yang mendengar cerita kami. Hagia mengajak mereka berdoa.” kata Om Samuel.

“Oh ya, kalau saja aku tau, Ibunya dan Ayahnya Yesus tidak mendapat tempat di hotel atau guesthouse mana pun aku mau lho, pinjamkan kamarku.” kata Hagia.

“Bentar, Ibunya dan Ayahnya Yesus tidak mendapatkan tempat, itu berarti laki-laki dan istrinya yang sedang hamil dan akan segera melahirkan. Ooo… kalau saja Mama tau Mama juga akan pinjamkan kamar Mama. Lebih besar dari kamar Hagia,” kata Mamanya Hagia.

“Tapi Bu, Tuhan Allah sudah memutuskan bahwa Yesus lahir di kandang hewan seperti yang dikatakan oleh Malaikat,” Om Samuel menjelaskan.

“Iya, yah,” kata Mamanya Hagia. “Tak perlu menyesal.”

“Baiklah, Hagia dan Ibu, saya pamit. Harus menyusul teman-teman ke padang,” kata Om Samuel.

“Dah, Om, terima kasih baaanyak,” kata Hagia sembari membuat lingkaran besar dengan kedua lengannya.

“Terima kasih, Pak Samuel,” kata Mamanya Hagia.

Sesaat kemudian, setelah Mamanya Hagia masuk ke dalam rumah,

“Aaahhh…lupa deh,” Hagia menyesali sesuatu. “Mama tadi belum berdoa sama Om Samuel. Kalau Papa dan Mama tidak ada Yesus di hatinya gimana? Tadi aku mengajak Hester dan keluarganya berdoa supaya ada Yesus di hatinya. Daud dan keluarganya berdoa juga. Malahan aku lupa ngajak Mamaku berdoa. Aduuuh, parah banget aku ini.” Hagia menjadi sedih hingga tidak menyadari sahabat karibnya datang.

“Gia,” sapa Ruben. “Ngapain sedih gitu?”

“Kamu ngapain sudah malam keluyuran,” balas Hagia.

“Aku cuma mau nyanyi buat kamu,” jawab Ruben santai. “Begini, dengerin dulu sampai selesai. Aku bertemu Paman tua sebelah rumahku. Paman memberitau aku kalau malam waktu Yesus dilahirkan itu disebut orang “Natal” trus tadi ada Om Gembala yang lewat dan mengabarkan Yesus lahir di kandang di Betlehem, di kota kita. Jadi sekarang ini Natal,” Ruben mengguncang bahu Hagia dengan semangat dan gembira.

“Gitu…” kata Hagia murung.

Ruben heran melihatnya. Baru kali ini Hagia terlihat sangat sedih dan murung seperti itu. “eits…airmatanya menetes. Waduh. Apa harus kupeluk, ya.”

Ruben memeluk Hagia untuk menenangkannya. Suara lembut Ruben mengalun indah.

“Christmas isn’t Christmas 

Till it happens in your heart

Somewhere deep inside you

Is where Christmas really starts

So gives your heart to Jesus

You will discover when you do

That it’s Christmas really Christmas

Christmas really Christmas

For you.”

Bahu Hagia bergerak naik turun airmatanya membasahi kemeja Ruben.

“Hagia, ada apa?” tanya Ruben panik. Ia menarik nafas panjang dan dalam. Diulangnya dua-tiga kali sampai dia tenang. Dia memeluk Hagia tanpa kata sampai tangisnya redah.

Dengan terisak Hagia mencoba menjelaskan. “Aku… aku…”

“Ok, ok, tenanglah, aku tetap disini sampai kamu siap,” Ruben menenangkan. Ia menepuk-nepuk bahu Hagia lembut.

Hagia mengatur nafasnya sampai benar-benar tenang di keheningan malam itu. Papa Mamanya melihatnya. Mereka bergandengan tangan dengan diam. Akhirnya Hagia bicara juga.

“Aku sedih sekali. Aku dan Om Samuel, gembala itu, mengajak teman-teman dan keluarganya berdoa supaya Yesus ada di hati mereka. Tapi aku lupa mengajak Papa dan Mamaku berdoa sampai Om Sam pergi. Gimana kalau mereka tidak punya Yesus di hati. Aku sangat, sangat, menyesal.”

“Oh gitu. Gia, bukan aku tidak peduli tapi kamu membuat aku panik dan takut apa aku salah nyanyi lagu itu,” kata Ruben. “Kita pasti bisa mengajak Papa dan Mama kamu berdoa seperti Om Samuel, menyanyi memuji Tuhan.”

Hagia memandang Ruben takjub. Sejenak kemudian, “Kenapa baru sekarang ngomong. Aku sudah nangis habis-habisan, ha ha ha ha…” Hagia meninju bahu Ruben pelan.

“Itu baru Hagia anak Papa. Yang nangis itu siapa Papa tidak kenal,” Papanya Hagia becanda.

“A-aah…Papa…” Hagia merajuk manja.

“Sayang, kamu mau Papa dan Mama berdoa, ayo,” ajak Mamanya Hagia.

Mereka berdoa dengan segenap hati. Setelah itu Mamanya Hagia menyanyi, “Christmas really Christmas for me…”

Mereka semua menyanyi “Christmas really Christmas, for you” bertepuk tangan, sangat bahagia.

“Gia, aku pulang, ya. Jangan pernah nangis lagi. Bikin susah orang, hahaha…” Ruben pamit. “Om, Tante saya pamit.”

“Terima kasih, Ruben, hati-hati,” kata Papanya Hagia.

“Tidak usah hati-hati, sebentar lagi juga terang. Bisa lihat kiri kanan, depan…Daaah,” seru Hagia.

Hagia dan Papa Mamanya berdiri tenang dan damai di ambang fajar. Menyambut hari baru dengan hati yang baru. Hidup baru bersama Yesus Sang Juruselamat.


 

Penulis: Djauhari Silvya Tanuadji*
Penyunting: Yemima GP

(Penulis adalah peserta dari tantangan menulis Natal tahun 2025 bersama Pena Murid dengan tema Membaca Ulang Natal Lewat Wajah-Wajah yang Terlupakan)

Categories:
jperkantas

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Berkaca dari Yusuf
Natal hadir setiap tahun dalam hidup kita. Ada banyak hal yang bisa lewat di kepala
Aku Tidak Istimewa
Apakah kamu merasa hidupmu tidak istimewa? Apakah kamu merasa hidupmu biasa-biasa saja? Apakah kamu merasa
Dengan Cinta yang Terus Bersatu dan Penyertaan Tuhan
Dalam bayang-bayang terdengar suara samar-samar. Ia menggumam. Dalam layar pikirku ia terus hadir. Lelaki berjenggot
Jika Aku Menjadi Seekor Domba
Sepertinya, tidak ada tema natal yang lebih absurd daripada memikirkan jika aku menjadi seekor domba.
Avi
“Hati membutuhkan waktu lebih banyak untuk menerima apa yang sudah diketahui pikiran.” Iya, iya, aku
Satu Hari Lagi, Akan Kulalui di Dalam Penyertaan Tuhan
“Tetapi Maria menyimpan segala perkara itu dalam hatinya dan merenungkannya.” (Luk. 2:19)   Apa rasanya
Konjungsi Agung yang Sesungguhnya
Penelitian bertahun-tahun akhirnya membawa mereka pada titik ini. Perjalanan ke Yudea, hanya bertiga saja, mengejar
Bertemu Para Majus
Tahun ini tidak seperti tahun-tahun sebelumnya. Bila dijadikan sebuah buku, setiap bulannya menggambarkan satu bagian
Burdened with Glorious Purpose
Bagaimana rasanya mengemban sebuah “beban panggilan yang mulia”? Mungkin kita bisa melihat teladan dari Yusuf