Bertemu Para Majus

Literatur Perkantas Jatim Renungan Bertemu Para Majus
0 Comments

Tahun ini tidak seperti tahun-tahun sebelumnya.

Bila dijadikan sebuah buku, setiap bulannya menggambarkan satu bagian cerita.

Ada saja kejadian yang membuat sesak karena masalah yang datang bertubi-tubi menghantam dada ini. Dari awal tahun di bulan Januari ayah saya masuk rumah sakit. Semakin hari keadaanya semakin memburuk. Mencoba bertahan dengan berbagai pengobatan namun hasilnya tidak sebanding dengan usaha dan doa. Sepertinya Surga menutup telinga untuk seruan doa. Akhirnya di bulan Agustus ayah saya menyerah dan kembali ke rumah Bapa di surga. Baru menarik napas, sebulan kemudian kakak ipar  yang mengidap kanker sedang menjalani pengobatan tiba-tiba saja kondisinya menurun. Dokter sudah angkat tangan dan diminta untuk kembali ke rumah. Sepertinya lutut ini tak henti-hentinya bertelut untuk meminta belas kasihan.

Tibalah di awal bulan Desember, bulan yang ditunggu-tunggu oleh banyak orang terutama kami sekeluarga. Sudah jauh-jauh hari merencanakan liburan. Dari tiket pesawat, penginapan, jadwal perjalanan semua sudah diatur. Tinggal tunggu tanggal keberangkatan. Hari itu tepatnya hari Selasa. Minggu pertama di bulan Desember.

Dering telepon tengah malam adalah hal yang dihindari, membuat dada berdegup. Pasti ada sesuatu yang buruk terjadi. Benar saja, suara disana mengatakan bahwa ayah mertua masuk rumah sakit. Segera kami menuju rumah sakit. Keadaanya cukup parah. Terkena strok dan Pneumonia. Dengan umur 83 tahun cukup banyak pengobatan yang dilalui namun hasilnya semakin memburuk dan diharuskan masuk ke ICU.

Saya terlalu lelah Tuhan…

Tuhan, dapatkah di ujung tahun ini, di bulan yang terakhir ini.

Sebagai penutupan tahun. Diakhiri dengan akhir yang manis.

Sebagai akhir dari buku cerita.

Happy Ending Story.

Singkat cerita rencana liburan kami gagal total. Harus jadwal ulang dan mengurus semua ini sangat makan waktu, tenaga, pikiran dan biaya. Belum lagi harus fokus dengan pengobatan mertua di ICU.

Rasa kesal bercampur sedih. Menyalahkan keadaan. Entah apalagi kata yang harus terucap. Rasa syukurkah atau lainnya. Satu hal yang saya rasakan sepertinya tahun ini adalah tahun sial untuk saya. Tahun yang penuh kegelapan.

Namun di tengah kegelapan itu Tuhan masih menghadirkan secercah cahaya untuk saya. Cahaya yang timbul dari balik awan gelap. Cahaya itu menuntun saya untuk kembali kepada-Nya. Cahaya yang sama dengan cahaya bintang yang menuntun orang-orang majus untuk bertemu dengan diri-Nya.

Orang-orang Majus melihat bintang timur sebagai pertanda bahwa ada seorang raja besar telah lahir. Dengan melalui padang gurun, angin malam, teriknya matahari. Bertemu dengan Raja Herodes dengan intimidasinya yang kuat dan menakutkan. Sungguh bukan perjalanan yang mudah untuk mereka. Namun dengan keteguhan hati, mereka tetap berjalan mencari raja besar itu.

Dengan membawa persembahan kepada Raja yang belum mereka kenal, namun terletak pengharapan dan percaya dalam hati mereka. Mas, kemenyan, dan mur yang dijadikan sebagai persembahan kepada raja itu semua tidak sebanding dengan apa yang mereka dapat setelah bertemu Sang Raja. Melalui perjumpaan, mereka mempunyai pengalaman iman. Ada kepuasan, ada rasa sukacita serta memiliki harapan besar. Tangan mereka kosong ketika mereka kembali pulang namun hati mereka penuh. Tangki harapan dan sukacita mereka berbual-bual.

Saya berkaca dan berkata kepada orang yang saya lihat.

Bukankah kau terlebih mengenal Raja itu? Selama kurang lebih 46 tahun nama Raja itu terus menggelayut di telingamu? Cerita – ceritaNya sampai kau hafal di luar kepala.

Begitu banyak pengalaman iman yang telah dilalui, begitu banyak jawaban doa yang telah dijawab. Begitu nyata pemelihara-Nya sampai saat ini kakimu masih bisa tegak berdiri. Begitu banyak berkat yang telah kau terima dari-Nya. Masakan kau mau menerima yang baik dan menolak yang buruk. Bukankah pengorbanan-Nya sudah cukup bagimu?

Sekarang mengapa keluhan, ketakutan, dan rasa kecewa yang dipersembahkan kepada Dia sang Raja?

Air mata ini turun perlahan. Bercampur semua rasa yang berkecamuk di dada.

Berlarilah, dapatkan Dia dan kembali temui Dia.

Bawa kembali hatimu dan hidupmu.

Bukankah itu menjadi wangi-wangian yang harum dibanding mas, kemenyan, dan mur.

Dapatkan kembali sukacita dan harapan itu. Agar hidupmu kembali terisi penuh.

Tutuplah tahun ini dengan berjalan kembali bersama Dia.

Memang begitulah manusia yaitu diriku. Hanya bisa melihat sesuatu yang indah namun lupa tentang jalan yang sempit dan berkerikil. Para Majus kembali mengingatkanku bahwa untuk mencari sukacita, pengalaman iman dan damai sejahtera sesungguhnya, kadangkala harus diraih dengan tetesan air mata, keringat, dan keteguhan hati karena di situlah Raja Damai itu hadir dan mengulurkan tangan-Nya.


Penulis: Mira Savira*
Penyunting: Yemima GP

(Penulis adalah peserta dari tantangan menulis Natal tahun 2025 bersama Pena Murid dengan tema Membaca Ulang Natal Lewat Wajah-Wajah yang Terlupakan)

 

Categories:
jperkantas

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Berkaca dari Yusuf
Natal hadir setiap tahun dalam hidup kita. Ada banyak hal yang bisa lewat di kepala
Aku Tidak Istimewa
Apakah kamu merasa hidupmu tidak istimewa? Apakah kamu merasa hidupmu biasa-biasa saja? Apakah kamu merasa
Dengan Cinta yang Terus Bersatu dan Penyertaan Tuhan
Dalam bayang-bayang terdengar suara samar-samar. Ia menggumam. Dalam layar pikirku ia terus hadir. Lelaki berjenggot
Jika Aku Menjadi Seekor Domba
Sepertinya, tidak ada tema natal yang lebih absurd daripada memikirkan jika aku menjadi seekor domba.
Avi
“Hati membutuhkan waktu lebih banyak untuk menerima apa yang sudah diketahui pikiran.” Iya, iya, aku
Satu Hari Lagi, Akan Kulalui di Dalam Penyertaan Tuhan
“Tetapi Maria menyimpan segala perkara itu dalam hatinya dan merenungkannya.” (Luk. 2:19)   Apa rasanya
Konjungsi Agung yang Sesungguhnya
Penelitian bertahun-tahun akhirnya membawa mereka pada titik ini. Perjalanan ke Yudea, hanya bertiga saja, mengejar
Berjumpa dengan Yesus
Maka kembalilah gembala-gembala itu sambil memuji dan memuliakan Allah karena segala sesuatu yang mereka dengar
Burdened with Glorious Purpose
Bagaimana rasanya mengemban sebuah “beban panggilan yang mulia”? Mungkin kita bisa melihat teladan dari Yusuf