Konjungsi Agung yang Sesungguhnya

Literatur Perkantas Jatim Cerita Pendek Konjungsi Agung yang Sesungguhnya
0 Comments

Penelitian bertahun-tahun akhirnya membawa mereka pada titik ini. Perjalanan ke Yudea, hanya bertiga saja, mengejar bintang yang semakin hari semakin meragukan.

Perkamen-perkamen dengan tegas menunjukkan bahwa Nabi Yesaya memang menjanjikan Raja baru bagi bangsa Yehuda. Peristiwa itu akan ditandai dengan kemunculan sebuah bintang, yang terangnya melebihi apa pun juga yang pernah mereka lihat sebelumnya. Bintang itu tidak hanya merupakan pertanda, melainkan juga sebuah peta yang akan menuntun para cerdas cendekia pada sang Raja yang baru lahir.

Tentu, bagi para majus seperti mereka, peristiwa astronomi selangka ini tidak bisa diabaikan begitu saja.

“Semua daya upaya yang telah kita keluarkan, dan semua halang-rintang yang telah kita telan mentah-mentah, pada akhirnya hanya memberikan keuntungan bagi Bangsa Yehuda!” Belsazar, teman seperjalanan mereka yang termuda, mengeluh. “Mengapa Raja itu tidak bisa menjadi Raja bagi siapa pun yang menemukannya? Mengapa Raja itu tidak bisa memberikan sesuatu kepada mereka yang telah bersusah-payah menyelidiki kelahirannya?”

“Tanpa Raja ini, bangsa Yehuda tidak akan selamat,” jawab Gaspar, yang tertua di antara mereka bertiga.

Memang, hanya Gaspar yang bisa memberi jawab terbaik bagi gerutuan-gerutuan Belsazar yang tidak pernah habis sepanjang jalan. Melkhior, yang usianya tepat berada di tengah mereka berdua, lebih banyak diam dan menghabiskan waktu dengan pikirannya sendiri.

“Sedangkan bangsa Yehuda hanya sibuk berdoa dan mempersembahkan domba,” Belsazar masih melanjutkan keluhannya. “Bila aku hidup di bawah pemerintahan Herodes yang tamak pajak dan tak peduli untuk memberikanku pekerjaan yang layak, sudah lama aku akan melakukan kudeta. Politik harus diselesaikan dengan politik, tak bisa dengan doa!”

“Kerajaan Romawilah yang memaksa Herodes menarik pajak sebanyak itu. Mereka bahkan tak bisa menyembah allah mereka sendiri, dan harus tunduk pada dewa-dewi Roma yang konyol,” jawab Gaspar lagi. “Bagaimana Raja ini akan menumpas pendudukan Romawi yang telah langgeng bertahun-tahun?”

“Melkhior!” Akhirnya Belsazar memanggil temannya itu. “Tidakkah kau peduli pada Raja yang sedang kita cari ini?”

“Bintanglah yang sedang kita cari,” Melkhior menjawab. Nadanya muram. “Namun, kini, bahkan aku mulai meragukan instingku sendiri.”

Bintang terang yang mereka kejar dikenal juga dengan nama konjungsi agung.

Konjungsi agung yang menandai kelahiran Raja, sebuah peristiwa yang luar biasa, bukan? Konjungsi agung terjadi apabila planet Jupiter dan Saturnus mendekat pada titik terdekat mereka secara bersama-sama di luar angkasa, menghasilkan cahaya bak bintang paling terang yang pernah dilihat manusia. Konjungsi agung ini merupakan peristiwa astronomi paling langka yang terjadi setiap sekian puluh tahun sekali, sehingga hanya dapat mereka saksikan sekali seumur hidup.

“Namun,” ucap Melkhior, “mungkinkah konjungsi agung ini membawa kita ke sana?”

Belsazar dan Gaspar mengikuti arah pandang Melkhior, jauh ke depan. Kota Betlehem- Efrata, kota yang terkecil di antara kaum-kaum Yehuda, bersinar terang di bawah sinar bintang yang yakin dan teguh.

“Benarkah?” Melkhior sekali lagi menatap bintang itu tanpa berkedip, berharap bintang itu dapat bicara dan memberinya petunjuk. “Bagaimana kalau kita salah? Bagaimana kalau bukan bintang itulah yang kita cari?”

Sejenak mereka terdiam. Suara-suara hewan malam menyadarkan mereka bahwa mereka sudah tak mungkin mundur. Terbayang di kepala mereka, sekali lagi: penelitian bertahun-tahun, perjalanan yang begitu jauh, dan konjungsi agung yang tak mungkin datang dua kali.

Pikiran mereka tiba-tiba disela oleh riuh rendah kedatangan segerombolan orang dari kota Betlehem-Efrata. Para majus bisa mengenali mereka sebagai para gembala, walau rasanya aneh melihat mereka berkeliaran malam-malam begini melintasi perbatasan kota.

“Gembala-gembala mabuk,” tebak Belsazar.

“Hei!” Salah seorang dari mereka memanggil. Raut wajahnya cerah dan gembira, benar-benar seperti seorang yang sedang mabuk anggur.

“Apa maumu?” Jawab Melkhior.

“Apa kau mencari Raja yang telah lahir?” Gembala itu menjawab lagi. “Ia telah lahir! Ia telah lahir! Malaikat yang memberitahu kami, dan kami telah melihatnya sendiri, di kandang domba, di Betlehem-Efrata, Raja orang Yahudi telah lahir!”

Ketiga majus terdiam dan terpaku. Para gembala terus tertawa dan berbicara di antara mereka, dan kontradiksi antara ucapan mereka, pakaian mereka, dan ucapan mereka, akan membuat siapa saja ragu pada berita yang mereka kabarkan.

“Itulah Raja yang kita cari,” ucap Gaspar. “Di Betlehem-Efrata, ya. Tak usah kita ragu lagi.”

“Bagaimana bisa kau percaya pada ucapan orang mabuk? Para gembala, pula, yang begitu kotor dan bau, bahkan belum bersalin pakaian setelah pulang dari ladang,” jawab Melkhior. “Bila ia benar seorang raja, mengapa ia membiarkan gembala-gembala itu yang menemukannya, dan bukan kita? Bila ia benar seorang raja, mengapa ia lahir di kandang domba? Aku rasa gembala-gembala itu mengerjai kita. Atau mereka benar- benar mabuk.”

“Aku tak peduli,” ucap Belsazar. “Yang aku tahu, bintang itu mengarahkan kita pada seorang Raja, dan itu sudah cukup. Aku mau membuktikan bahwa itu adalah bintang yang kita cari.”

Maka, bersama-sama, mereka bertiga masuk ke kota, dan menyusuri jalan-jalan yang sepi, berharap-harap cemas agar gembala itu salah dan Raja yang mereka cari tidak benar-benar berada di kandang.

Namun, semesta membungkam mereka telak. Bintang itu benar-benar berada di atas sebuah kandang domba, di sebelah penginapan, dan tetap berada di sana bahkan setelah para majus menunggu sebentar seandainya bintang itu berpindah.

“Jadi, inilah dia,” ucap Gaspar. “Raja orang Yahudi.”

“Mengapa raja itu tidak lahir di penginapan ini saja?” keluh Belsazar. “Ah, sudah repot- repot kita membawa emas, kemenyan, dan mur untuk mentahbiskannya. Harus kita apakan semua ini?”

“Persembahkan,” jawab Melkhior, dengan ketegaran suara yang sebelumnya tak ada. “Bagaimanapun, kini aku yakin, ini adalah bintang yang kita cari, dan ia mengarahkan kita pada bayi ini. Setelah ini, marilah kita pulang ke jalan kita masing-masing, dan tidak kembali lagi.”

Gaspar memimpin mereka bertiga, turun dari unta dan menambatkannya di dekat kandang. Dadanya berdebar seiring dengan deru tangisan bayi yang semakin terdengar. Sembari membawa persembahan-persembahan bagi sang Raja, mereka bertiga masuk ke dalam kandang.

Pemandangan yang mereka temukan di dalam sungguh membutakan pandang, menggetarkan batin, dan menyentuh jiwa.

“Raja orang Yahudi!” Gaspar berseru, seraya berlutut di depan kandang itu. Ia telah mendahului teman-temannya, terdorong oleh kehausan dan kerinduan yang tak dapat dimengerti. Segera, Melkhior dan Belsazar melakukan hal yang sama.

Kedua orang tua bayi, begitu muda dan belia, duduk begitu saja di rumah yang kecil dan hangat. Bayi itu sendiri tenang di pelukan ibunya, begitu sederhana dan tak layak, namun pandangan matanya—ah, pandangan matanya!

Ia seakan paham akan keraguan Melkhior, ketidakpercayaan Belsazar, dan ketakutan Gaspar. Namun, ia menerima mereka. Bahkan dalam wujudnya yang baru lahir sebagai manusia, Raja itu telah menerima mereka, yang belum percaya pada-Nya. Ia menyentuh hati Melkhior yang gelisah, menggandeng Belsazar yang resah, dan memeluk Gaspar yang lapar.

Dan pada detik itulah, enyah sudah kebanggaan para majus soal peristiwa astronomi langka yang tak bisa mereka temukan dua kali, kesempatan seumur hidup untuk

menjadi terkenal dan berjaya, serta kemungkinan mereka dipromosikan bila menjual Raja itu pada Herodes.

Air mata mengalir di pipi mereka.

“Ini persembahan dari kami: emas, kemenyan, dan mur, bagi Raja yang telah lahir.”

Ayah sang bayi menerima persembahan kami dengan patuh. “Damai sejahtera bagimu,” jawabnya.

“Dan bagimu juga,” jawab Gaspar.

Malam itu, dalam detik yang terasa seperti keabadian, ketiga orang majus dari Timur meninggalkan kepongahan mereka, tertunduk rapuh pada Kemuliaan yang tak pernah mereka temukan dalam perkamen apa pun. Kini mereka mengerti puji sembah yang tak henti dinaikkan oleh orang Yahudi bagi Tuhan mereka. Dan malam itu, Melkhior menulis:

Rupanya hadirat Raja yang mulia tak dapat aku hampiri dengan pikiran manusiaku yang sederhana. Bila kau hendak bertemu dengan Raja itu, benarlah rupanya apa yang telah dilakukan oleh orang Yahudi. Berdoalah. Dan biar Damai Sejahtera-nya menghampirimu dalam segala ketidaktahuan.

 

Belsazar menulis:

Dan tujuan hidupku, kini, telah kusadari. Bukan mengejar bintang itu lagi, seperti yang sudah-sudah, namun mengejar sang Raja, yang amat mulia. Bukan mengejar masa depan bagi diriku sendiri, namun mengejar rencana-Nya yang sempurna.

 

Gaspar menulis:

Hal yang tak pernah ku sesali sebelum aku mati, ialah bertemu dengan Raja orang Yahudi. Aku merasakan cinta kasih-Nya bahkan hanya lewat tatapan mata. Mungkin ia bukan Raja yang akan menyelamatkan Bangsa Yahudi dari Roma, namun aku percaya, ia akan membawa mereka ke tempat yang lebih indah. Terpujilah Ia!


Penulis: Theresella Mercy*
Penyunting: Yemima GP

(*Penulis adalah peserta dari tantangan menulis Natal tahun 2025 bersama Pena Murid dengan tema Membaca Ulang Natal Lewat Wajah-Wajah yang Terlupakan)

Categories:
jperkantas

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Berkaca dari Yusuf
Natal hadir setiap tahun dalam hidup kita. Ada banyak hal yang bisa lewat di kepala
Aku Tidak Istimewa
Apakah kamu merasa hidupmu tidak istimewa? Apakah kamu merasa hidupmu biasa-biasa saja? Apakah kamu merasa
Dengan Cinta yang Terus Bersatu dan Penyertaan Tuhan
Dalam bayang-bayang terdengar suara samar-samar. Ia menggumam. Dalam layar pikirku ia terus hadir. Lelaki berjenggot
Jika Aku Menjadi Seekor Domba
Sepertinya, tidak ada tema natal yang lebih absurd daripada memikirkan jika aku menjadi seekor domba.
Avi
“Hati membutuhkan waktu lebih banyak untuk menerima apa yang sudah diketahui pikiran.” Iya, iya, aku
Satu Hari Lagi, Akan Kulalui di Dalam Penyertaan Tuhan
“Tetapi Maria menyimpan segala perkara itu dalam hatinya dan merenungkannya.” (Luk. 2:19)   Apa rasanya
Bertemu Para Majus
Tahun ini tidak seperti tahun-tahun sebelumnya. Bila dijadikan sebuah buku, setiap bulannya menggambarkan satu bagian
Berjumpa dengan Yesus
Maka kembalilah gembala-gembala itu sambil memuji dan memuliakan Allah karena segala sesuatu yang mereka dengar
Burdened with Glorious Purpose
Bagaimana rasanya mengemban sebuah “beban panggilan yang mulia”? Mungkin kita bisa melihat teladan dari Yusuf