“Tetapi Maria menyimpan segala perkara itu dalam hatinya dan merenungkannya.” (Luk. 2:19)
Apa rasanya ketika hidup ternyata tidak berjalan seperti yang dibayangkan dan direncanakan, melainkan seperti apa yang Allah kehendaki?
Jika Aku Menjadi Maria…
Hari itu, seorang malaikat datang kepadaku dan berkata bahwa aku akan mengandung dan melahirkan seorang anak laki-laki. Namanya Yesus. Ia akan menjadi besar dan disebut Anak Allah Yang Mahatinggi. Padahal saat itu aku sedang mempersiapkan pernikahanku dengan Yusuf. Apa yang harus kukatakan kepadanya? Bagaimana aku menjelaskan semua ini kepada keluargaku, kepada sanak saudaraku?
Di tengah segala kebingungan dan ketakutan itu, aku berkata kepada malaikat tersebut, “Sesungguhnya aku ini adalah hamba Tuhan, jadilah padaku menurut perkataan-Mu.” Namun setelahnya, aku pulang dengan hati yang gelisah. Untuk memejamkan mata pun aku kesulitan. Pertanyaan demi pertanyaan berputar di kepalaku: “Apakah ia sungguh malaikat?” “Mengapa aku yang dipilih Allah?” “Bagaimana caranya agar Yusuf dan keluargaku mempercayaiku?”.
Jika aku adalah Maria, aku akan sibuk menuntut jawaban dari Allah. Mengapa aku, Tuhan?
Maria harus mengandung Anak itu. Ia mengandung-Nya dengan segala susah payah dan melahirkan-Nya melalui proses yang tidak mudah. Melahirkan Anak Allah tidak menghapuskan kenyataan bahwa Maria tetap harus melewati kehamilan dan persalinan yang penuh sakit. Ia harus membesarkan Anak itu sebagaimana seorang ibu membesarkan anaknya: menyusui-Nya, memberi-Nya makan, mengajar-Nya berjalan dan berbicara, mendengarkan tangisan-Nya ketika kata-kata belum mampu Ia ucapkan.
Ia tentu merasakan kebahagiaan yang dalam, keharuan yang tak terucap, tetapi juga kelelahan, kemarahan, bahkan mungkin keputusasaan, sebagaimana seorang ibu pada umumnya. Setiap pagi ia bangun, menyentuh perutnya yang mengandung Anak Allah. Setelah melahirkan, ia duduk dan makan bersama Anak itu, menyiapkan makanan untuk-Nya. Bukankah ia juga pasti takut berbuat salah dalam merawat-Nya, terlebih karena ia tahu siapa Anak itu sesungguhnya?
Di dalam setiap hal yang ia kerjakan, ia percaya bahwa ia sedang menggenapi janji Allah, dan pada saat yang sama, Allah pun setia menggenapi janji-Nya kepada Maria. Namun bagaimana mungkin hatinya tidak hancur ketika, pada akhirnya, sebagai seorang ibu, ia harus menyaksikan Anak itu mati di atas kayu salib tepat di hadapannya?
Dan bahkan di sana, di kaki salib, iman Maria tidak tercabut. Ia berdiri. Ia tinggal. Ia tidak lari. Mungkin ia kembali menyimpan segala perkara itu di dalam hatinya, merenungkannya, meski hatinya remuk.
“Jiwaku memuliakan Tuhan,
dan hatiku bergembira karena Allah, Juruselaamatku, sebab Ia telah memperhatikan kerendahan hamba-Nya.
Sesungguhnya, mulai dari sekarang segala keturunan akan menyebut aku berbahagia,
karena Yang Mahakuasa telah melakukan perbuatan-perbuatan besar kepadaku dan nama-Nya adalah kudus.
Dan rahmat-Nya turun-temurun atas orang yang takut akan Dia. Ia memperlihatkan kuasa-Nya dengan perbuatan tangan-Nya dan mencerai-beraikan orang-orang yang congkak hatinya;
Ia menurunkan orang-orang yang berkuasa dari takhtanya dan meninggikan orang-orang yang rendah;
Ia melimpahkan segala yang baik kepada orang yang lapar, dan menyuruh orang yang kaya pergi dengan tangan hampa; Ia menolong Israel, hamba-Nya,
karena Ia mengingat rahmat-Nya,
seperti yang dijanjikan-Nya kepada nenek moyang kita, kepada Abraham dan keturunannya untuk selama-lamanya.”
Iman yang Mendahului Langkahnya
Maka pertanyaannya kini kembali kepadaku: mampukah aku menjadi seperti Maria berhenti bertanya “Mengapa aku?” dan mulai datang kepada Tuhan dengan doa, “Apa yang harus kulakukan sekarang, Tuhan?”
Dalam keterbatasannya, Maria tidak sibuk mempertanyakan apakah ia sanggup mengerjakan kehendak Allah. Ia percaya, lalu melangkah. Dan langkah demi langkah itulah yang akhirnya membuatnya menyaksikan karya Allah dinyatakan dalam hidupnya, keberaniannya untuk melangkah bukan bersandarkan pada pengetahuannya, melaikan imannya akan Allah.
Maka dalam hidupku sendiri, aku pun bertanya: bagaimana aku bisa menjadi seperti Maria seseorang yang telinga dan hatinya terbuka pada firman dan janji Allah, yang bertekun dalam ketaatan, yang tetap percaya di tengah kesulitan? Dan ketika Allah mengambil kembali apa yang telah Ia berikan, apakah aku masih mampu berkata, “Sesungguhnya aku ini hamba Tuhan”?
Aku bukanlah Maria, dan imanku tidak selalu teguh. Namun, aku belajar bahwa mengatakan “ya” kepada Tuhan membuka mataku untuk menyaksikan karya-Nya yang besar dalam hidupku. Ketika aku membiarkan iman melangkah lebih dahulu, aku sampai pada sebuah kesaksian yang sederhana namun dalam: Allah yang sama yang menyertai Maria, juga setia menyertaiku.
Penulis: Grace Julieta Marpaung*
Penyunting: Yemima GP
(Penulis adalah peserta dari tantangan menulis Natal tahun 2025 bersama Pena Murid dengan tema Membaca Ulang Natal Lewat Wajah-Wajah yang Terlupakan)
