Sepertinya, tidak ada tema natal yang lebih absurd daripada memikirkan jika aku menjadi seekor domba. Mungkin seperti ini kisahnya.
Pada suatu malam yang sejuk di Betlehem, di tengah hamparan padang rumput yang agak menguning, aku bersama para domba lain melihat tuan kami, sang gembala, berlarian ke arah sebuah gubuk, tempat kami biasanya meneduh dan makan. Jika aku boleh mengungkapkan instingku, sejak malam itu, semua yang ku kenal berperilaku aneh. Lebih-lebih tuanku, yang terperangah mendengar—jika aku tak salah dengar—Kemuliaan bagi Allah di tempat yang mahatinggi dan damai sejahtera di bumi di antara manusia yang berkenan kepada-Nya.
Memang, aku pun melihat sesosok makhluk bercahaya, datang menghampir tuanku. Tidak pernah ku lihat makhluk seterang itu. Hari ini telah lahir bagimu Juruselamat, yaitu Kristus, Tuhan, di kota Daud, begitu katanya. Siapakah Yesus itu? Mengapa ia disebut juruselamat, Kristus, dan Tuhan? Aku hanya tahu tuanku pemelihara hidupku. Sejak aku lahir, selain aku melihat wajah ibuku, aku melihat tuanku di samping ku. Tiap hari aku dibimbingnya, menyusuri padang rumput. Kalau aku haus, ia menuntun aku ke sungai yang tenang. Aku pun selalu merasa aman. Bilamana serigala menerjang aku dan teman-teman, tuanku pasti pasang badan untuk menghalaunya. Dia selalu menang, meskipun banyak luka meradang.
Malam itu, aku masih gamang melihat tuanku dengan rela dan segera berlari ke arah gubuk. Aku pun mengikutinya. Ketika mendekat, ternyata ada seorang bayi kecil, terbaring di tempat makan saudara-saudaraku. Mengapa mereka di situ, sampai-sampai mengambil tempat makan saudara-saudaraku? Apa mereka tidak mampu membayar penginapan? Apakah mereka musafir, yang entah mengapa diusir dari tanah kelahirannya? Aku ingin tahu jawabannya, meskipun tidak mesti hari ini.
Tuanku—dan juga tuan-tuan yang lain—amat bersuka cita karena kehadiran bayi yang dinamakan Yesus itu. Mereka memuji dan memuliakan Allah karena sosok itu. Kalau pun aku tahu siapa Allah yang tuanku maksud, pastilah aku paham dan ikut bersuka.
Di sisi lain, Aku, seekor domba jantan yang tepat berumur satu tahun, lahir di antara aturan-aturan. Aku pun tahu, tuanku seorang Israel, meskipun aku tidak tahu dari suku mana ia berasal. Ketika aku berusia enam bulan, aku melihat tuanku mempersembahkan korban bakaran salah satu saudaraku, di Yerusalem. Aku membayangkan, mungkin tidak lama lagi, diriku juga akan dikorbankan, sama seperti saudaraku.
Kembali pada malam itu. Bayi yang bernama Yesus dilentangkan dalam palungan. Dengan kain seadanya, aku melihat tangan seorang wanita membalut tubuh-Nya dengan lembut. Mungkin itu ibu-Nya. Juga seorang pria, bersimpuh tempat di samping-Nya. Sepertinya itu ayah-Nya. Mereka begitu hangat, tenteram, dan bersahaja, meskipun tempat itu tak mampu menampung banyaknya orang dan teman-teman ku.
Rasa nyaman dan hangat mengingatkan ku kembali pada tuanku. Aku mengenal tuanku, dan tuanku juga mengenal aku. Setiap pagi dan sore hari, melalui pintu, tuanku menyiapkan kami untuk pergi ke luar. Sebelum berangkat, tuanku memanggil setiap nama kami: Tson, Kesev, Teli, Kar, Probaton, Aren, dan lain-lain. Satu-satu dikenalinya dengan amat baik. Setelah di absen, tuanku menuntun kami ke luar.
Tuanku selalu tahu spot mana yang menghasilkan rumput yang sedap disantap. Sesaat sebelum berjalan ke luar, tuanku berjalan di depan kami. Kami pun percaya akan suaranya. Tidak ada suara yang lain. Bahkan, sering kali aku hanya mengikut tanpa melihat sosoknya dan hanya mendengar suaranya. Pernah sekali aku lalai—mungkin karena instingku yang dungu—sehingga jauh dari saudara-saudaraku dan ibuku. Berjam-jam aku berteriak [dengan mengembik tentunya] berharap tuanku datang menemui aku. Aku tidak berdaya menghadapi derasnya hujan dan sorotan tajam hewan buas yang memelototi ku. Hampir saja aku terjerembab ke dalam jurang, sekian detik sebelum tangan tuanku memegang aku. Jika bukan tuanku yang menolong, pastilah aku mati atau menjadi santapan hewan buas. Aku tidak dapat hidup di luar jangkauan tuanku.
Pernah aku menemui ada sekelompok domba berbeda ras, mungkin juga berbeda tempat kelahirannya, tinggal bersama-sama dengan kami. Pada awalnya—lagi-lagi insting dungu ku—aku protes. Pertama-tama, aku protes kepada ibuku.
Bu, kenapa mereka tinggal bersama kita? Mereka kan asing. Perilaku mereka tidak sama dengan kita. Protes ku.
Ibu pun tidak tahu, nak. Tugas kita hanya menerima saja. Jawab ibu singkat.
Apa ini perbuatan tuanku? Jika iya, mengapa tuanku sampai bersusah payah memelihara mereka yang jelas-jelas bukan dari kelompok ini? Yasudahlah…barangkali hal itu adalah baik di mata tuanku. Kejadian itu tidak lain membuktikan tuanku memiliki karakter yang sayang sekali dengan domba-dombanya.
Toh, cerita lain yang kudapatkan dari tetangga sebelah, benar-benar mengerikan. Tentang tuan mereka yang tidak acuh terhadap domba-dombanya. Tuan mereka mengeksploitasi domba-dombanya, mengambil susu dan rambut [karena aku tahu aku ini mamalia!] dengan bengis. Lagi, yang gemuk disembelih tanpa pernah merawatnya. Tuan mereka sangat kejam dan jahat. Tidak jarang banyak kelompok domba mereka berhamburan ke sana-sini, tercerai-berai, hingga menjadi santapan hewan buas. Mereka hidup hanya untuk mati.
Ketika beberapa kelompok domba memasuki kandang kami tanpa sengaja, tuanku segera membuka pintu, menempatkan mereka ke sudut ruang, dan mulai merawatnya satu per satu. Aku tekankan: SATU PER SATU. Sungguh terbuat dari apa hati tuanku ini?
Kisah-kisah yang aku ceritakan di atas, entah mengapa muncul dalam benak. Sebagai domba yang—katakanlah—sudah memasuki tahap dewasa, aku dapat merasakan sesuatu di sekelilingku. Bahkan beberapa keadaan, aku bisa memahaminya. Ketika Yesus menangis dalam palungan, aku melihat tuanku ikut menangis, menangis sejadi-jadinya. Tapi, tak ku lihat tangisan dukacita, melainkan sukacita. Sebagai konteks, aku tahu apa itu dukacita dan sukacita. Dukacita ketika tuanku terluka, dan sukacita ketika tuanku selalu ada buatku. Tuanku menangis sambil memegang tangan Yesus yang amat mungil, sesekali melihat ke arah ayah dan ibu-Nya.
Setelah puas melihat Yesus, dengan tongkatnya, tuanku menghampiri kami dan juga kerabatnya sambil berkata dengan sumringah,
Aku berbahagia dan memuji Elohim karena apa yang ku dengar, semuanya telah nyata terjadi pada saat ini!
Aku merasa, Bayi Yesus mirip denganku. Anak sulung, tidak berdaya, lahir di tempat yang sama, dan pada tanggal yang sama pula. Aku bisa merasakan, ayah dan ibu-Nya adalah orang yang baik, rendah hati, dan berhikmat. Meskipun tuanku memuji dan memuliakan sang bayi, tidak terlihat satu ekspresi jumawa dari orang tua-Nya. Malah aku melihat mereka lebih banyak diam dan merenung. Kedua orang tua-Nya benar-benar seperti tuanku.
Aku bisa menarik kesimpulan, jika Yesus bertumbuh, pasti Ia akan benar-benar dijaga, dididik, dan diperhatikan. Sama seperti aku yang dibesarkan oleh tuanku. Orang-orang di sekitar Yesus pasti akan mengasihi-Nya, begitu juga sebaliknya. Meskipun, di sisi lain, aku sama sekali tidak mengenal siapa Yesus itu.
Oh iya, satu hal lagi. Apakah Yesus juga akan dikorbankan sama seperti diriku ini? Aku tahu mengapa aku dikorbankan, dan aku pun rela, kok! Jika itu bermanfaat untuk tuanku, lebih-lebih bagi sosok yang menciptakanku [aku ini religius!]. Kalau pun Yesus bertumbuh seperti tuanku, tidak apa-apa juga. Malah, aku yakin Yesus akan menjadi seperti tuanku, bahkan lebih. Buktinya, tuanku sampai sujud memuliakan-Nya. Jika Yesus menjadi seorang gembala, bayangkan, betapa nikmat kerabat-kerabatku dituntun oleh-Nya. Lagi-lagi aku hanya berkaca pada tuanku, yang rela mengorbankan dirinya sendiri untuk menolong aku dan kawanan domba lain, meskipun nyawa taruhannya.
Kejadian Bayi Yesus malam itu akan terus aku ingat. Perjalanan dari Betlehem menuju kandangku memakan waktu yang tidak sebentar. Tetapi, tuanku terus-menerus bersuka cita dan memuliakan Allahnya. Angin malam yang semakin berhembus, di tengah kawanan, aku terus memperhatikan langkah tuanku yang berada di depan. Setelah sekian lama, kandang kami mulai terlihat. Sederhana, hangat, dan cukup.
Sebelum benar-benar masuk kandang, aku ingin sebentar berkeliling kandang. Entah mengapa, tuanku mengizinkan dan mengikutiku. Bukan lagi dari memimpin di depan, melainkan menjaga ku dari belakang. Hanya ada aku dan tuanku.
Setelah letih berputar, duduklah aku di pangkuannya. Sambil mengelus kepalaku, tuanku bersenandung, membiarkan ku terlelap dalam tidur panjang, juga dengan sejuta pertanyaan dan ketidakpastian dalam instingku. Namun, aku yakin satu hal yang pasti, tuanku selalu menjagaku dan aku tidak kekurangan suatu apapun.
Penulis: Jan Mealino Ekklesia*
Penyunting: Yemima GP
(*Penulis terpilih sebagai Tiga Penulis Terbaik dari tantangan menulis Natal tahun 2025 bersama Pena Murid dengan tema Membaca Ulang Natal Lewat Wajah-Wajah yang Terlupakan)
