Dalam bayang-bayang terdengar suara samar-samar. Ia menggumam. Dalam layar pikirku ia terus hadir.
Lelaki berjenggot panjang itu terus berpikir apa maksud ini semua. Dalam ruang sempit, botol beling tertutup rapat. Cinta terkurung, dua jiwa bertumbuh, bagaikan batang sirih terus melilit satu sama lain begitu erat. Semakin lama semakin kuat. Nazaret, kota kecil yang teduh. Kabar sukacita akan datang dan susul oleh terkaman yang mencium jejak-jejak.
Setiap pagi, ketika ia melihat serutan kayu, ia melihat bayangan masa depannya yang hancur jika Maria dianggap melanggar norma. Jenggot panjangnya yang penuh uban adalah saksi bisu pengalaman hidupnya, namun pengalaman itu tidak memberinya solusi untuk misteri ini. Bagaimana mungkin ia menjelaskan kepada tetangga, kepada Rabi, bahwa tunangannya mengandung melalui Roh Kudus? Rasa takut bukan hanya datang dari ancaman sosial, tetapi dari kekaguman yang bercampur kengerian terhadap campur tangan Ilahi dalam hidupnya yang sederhana. Ia merasa tidak layak menjadi bagian dari rencana besar ini, namun pada saat yang sama, cintanya kepada Maria menuntutnya untuk melindunginya dari segala tuduhan dan bahaya. Ini adalah pergulatan antara menjaga kehormatan diri dan menjaga takdir yang lebih besar dari dirinya.
Nazaret sendiri adalah desa kecil di perbukitan Galilea, tempat kehidupan berjalan lambat dan gosip menyebar cepat. Setiap tatapan mata tetangga terasa seperti penghakiman yang tertunda. Maria dan Yusuf menjalani hari-hari itu dengan kepala tertunduk, berupaya menyembunyikan keajaiban yang tumbuh di perut Maria. Mereka tahu bahwa cinta mereka harus lebih kuat dari batu-batu yang siap dilemparkan oleh masyarakat yang terikat pada aturan. Mereka hanya memiliki satu sama lain dan janji yang mereka terima. Janji yang terasa begitu agung dan menakutkan, seperti pedang bermata dua. Yusuf memutuskan, demi cinta murninya, ia akan menerima Maria dan peranannya, meskipun ia harus menanggung beban malu dan keraguan. Keputusan itu adalah bukti bahwa cinta mereka bukanlah cinta biasa; ia adalah cinta yang diuji dan disucikan.
Di malam yang sunyi, kembali menari-nari dalam mimpi, ia datang. Terdengar jelas, begitu bersinar, pantulan cahaya sorga menyilaukan mata.
“Mengapa Kau menghampiriku?” ucap wanita itu, begitu penasaran dan ketakutan.
“Jangan takut, aku datang untuk membawa kabar gembira. Kau akan mengandung dan melahirkan seorang anak dan menamai-Nya Yesus.”
Seketika Maria tertegun, ia tidak percaya hal ini akan terjadi. Hal yang sama terjadi juga kepada tunangannya, Yusuf. Mereka dihantui dengan rasa ketakutan dan keraguan.
“Akankah aku dapat menanggung semuanya ini?”
Maria dan Yusuf terus terlilit dalam keraguan. Dan hal itu benar-benar terjadi, mereka akan menjadi ayah dan ibu. Untuk seorang bayi yang akan menjadi raja.
***
Maria, setelah menerima kabar itu, menghabiskan waktu berhari-hari dalam keheningan yang mendalam. Kata-kata malaikat, “Jangan takut,” terus terulang-ulang di benaknya, sementara ia berusaha meredam gejolak di hatinya. Ia adalah seorang gadis yang dididik dalam ketaatan, namun skenario ini jauh melampaui segala ajaran yang pernah ia dengar. Setiap kali ia menyentuh perutnya yang masih rata, ia merasakan beban sejarah dan kemuliaan. Ia bertanya-tanya, apa yang akan terjadi selanjutnya? Ia menyadari bahwa perannya ini akan mengisolasi dirinya dari teman-teman dan keluarganya; ia harus berpisah dari Maria yang dulu ia kenal. Namun, di tengah ketakutan itu, ada benih iman yang tumbuh kuat. Ia mengucapkan, “Aku ini hamba Tuhan, jadilah padaku menurut perkataanmu itu,” bukan dengan keberanian yang sombong, melainkan dengan kepasrahan total seorang hamba yang mempercayakan hidupnya kepada Tuannya.
Penerimaan ini adalah inti dari kekuatan Maria. Ia tidak menuntut kemudahan, ia tidak meminta jalan keluar yang logis, ia hanya meminta bimbingan. Melalui perjalanannya mengunjungi Elizabet, sanak saudaranya, Maria menemukan peneguhan yang ia butuhkan. Perjumpaan dengan Elizabet, yang juga mengandung secara ajaib, menegaskan bahwa ia tidak gila, bahwa ia adalah bagian dari rencana suci yang telah dirajut sejak lama. Perjalanan spiritual ini memperkuat tekadnya. Ia kembali ke Nazaret bukan lagi sebagai gadis yang takut, tetapi sebagai wadah yang berani dan penuh kemuliaan. Ia kini siap menghadapi tatapan menghakimi Yusuf dan masyarakat.
Awan melintas begitu cepat, sembilan bulan berlalu. Telah tiba saat dimana Maria akan melahirkan. Mereka berkeliling, menyusuri berbagi tempat. Perintah sensus dari Kaisar Romawi adalah pukulan telak yang mengakhiri ketenangan singkat mereka. Bayangkan perjalanan itu: Maria, sembilan bulan mengandung, terpaksa menempuh sekitar 150 kilometer melintasi medan berbukit dan padang tandus. Setiap langkah keledai terasa menyakitkan bagi Maria. Yusuf berjalan di sampingnya, memegang tali kekang dengan raut wajah yang penuh kekhawatiran dan rasa bersalah karena tidak bisa memberikan kenyamanan yang lebih baik. Dia merasakan tekanan setiap kilometer yang mereka tempuh, mengetahui bahwa setiap guncangan dapat memicu kelahiran yang terlalu dini. Dalam perjalanan, mereka berbagi bekal seadanya dan kehangatan selimut tua, namun yang terpenting, mereka berbagi doa dan saling menguatkan.
Ketika akhirnya mereka tiba di gerbang Betlehem, harapan mereka langsung pupus. Kota itu, kota yang seharusnya menyambut keturunan Daud, kini sesak, ramai, dan tidak ramah. Udara dingin malam mulai menusuk, bercampur dengan suara gaduh pedagang dan kerumunan sensus. Yusuf mengetuk pintu penginapan demi penginapan, berulang kali ditolak. Setiap penolakan terasa seperti penghinaan terhadap takdir mereka. Mereka tidak meminta kemewahan, hanya tempat yang kering dan hangat agar Maria dapat bersalin dengan aman. “Tidak ada tempat,” kata para pemilik penginapan, seringkali tanpa repot-repot membuka pintu.
Penginapan penuh, walau Yusuf terus berjalan mencari tanpa lelah, dan yang tersisa hanya kandang domba yang kumuh.
“Kau yakin Ia akan lahir di tempat ini?” ucap Yusuf kepada Maria. Tetapi melihat Istrinya yang tidak bisa bertahan lama lagi, mereka harus tetap di situ.
Satuu, duaa, tigaa, empatt. “Oekkk, oekkk, oekkk!”
Tangisan bayi berkulit selembut kain sutra, dan mata berkilau seperti berlian. Dalam kesederhanaan, domba-domba mengembek-ngembek, bunga-bunga menari-nari, bintang bercahaya memandu jalan gembala-gembala, menyambut dan merayakan kelahiran bayi itu. Kedua insan memeluk anugrah.
Palungan itu, yang seharusnya kotor dan menjijikkan, kini menjadi takhta termulia. Di mata Yusuf dan Maria, bayi itu memang berkulit selembut kain sutra, memancarkan aura yang berbeda dari bayi mana pun yang pernah mereka lihat. Cahaya bintang di luar seolah-olah berpusat pada kandang itu, memberikan pemandangan yang menyentuh bagi para gembala yang datang kemudian. Gembala-gembala itu, yang dianggap sebagai kelas sosial paling rendah, adalah tamu pertama Raja, mencerminkan kerendahan hati dan universalitas misi-Nya. Domba-domba di sekitar mereka, yang mengembik pelan, seolah menjadi paduan suara alami yang menyambut. Bunga-bunga, yang mungkin hanya bunga liar di padang, seolah menari-nari ditiup angin, merayakan momen sakral ini. Bagi Yusuf dan Maria, semua kesulitan terbayar lunas. Mereka bukan hanya memeluk seorang bayi; mereka memeluk anugerah keselamatan dunia.
Kegembiraan mereka adalah ombak, datang dan surut, begitu cepat terjadi. Mungkinkah beban mereka akan berakhir pada hari itu? Di sebelah barat kota Betlehem itu kegeraman memancar, mengincar, mengintai, hembusan angin sejuk menjadi api yang membara. Herodes, raja Betlehem mendengar kabar kedatangan bayi yang akan menjadi raja, merasa terancam. Ia memerintah agar seluruh bayi-bayi di kota betlehem itu di musnahkan.
Berita mengerikan ini, ketika sampai ke telinga Maria dan Yusuf, terasa seperti sambaran petir. Mereka baru saja melewati bahaya persalinan, kini mereka harus menghadapi bahaya yang lebih mematikan. Anak mereka, bayi yang ditakdirkan untuk membawa damai, kini menjadi sasaran utama pembunuhan massal. Inilah ujian kedua yang jauh lebih menakutkan: bukan lagi tentang penerimaan sosial, tetapi tentang bertahan hidup.
Maria dan Yusuf kembali menerima perintah agar mereka lari membawa bayi itu ke Mesir. Maria putus asa, ingin menangis dan sudah tidak sanggup. Tetapi mereka tetap kabur membawa bayi itu, berjalan dalam kedesakan, perjalanan yang jauh dan penuh perjuangan, terus berlari sejauh mungkin dari terkaman serigala yang mengincar, bayang-bayang serigala itu semakin mendekat. Kaki lelah tapi tak berhenti. Dalam kegelapan dunia tertidur mereka terus melangkah.Tak peduli apa yang terjadi.Tiba di kota asing, meninggalkan kota lama yang penuh sejuta kenangan. Dengan hati berat mereka tetap menjalani semuanya ini. Tanpa mengenal siapa-siapa, dan kembali mencari tempat berteduh dan berlindung dari serangan Herodes. Menunggu dalam kesesakan, hingga Herodes menjadi debu dan kambali ke kota lama, Betlehem. Dalam beribu-ribu rintangan, melewati badai, melintasi segala arus Maria dan Yusuf bisa melewati semuanya ini, seorang wanita tidak tau akan segala hal dan percaya dia pasti tidak akan bisa. Dalam cinta yang terus bersatu dan penyertaan Tuhan. “Kita dapat melewati semua nya ini,” ucap Maria.
Perintah untuk melarikan diri ke Mesir datang melalui mimpi kepada Yusuf, sebuah pertanda yang tidak boleh ditunda. Mesir adalah satu-satunya tempat yang aman, karena berada di luar yurisdiksi Romawi yang tunduk pada Herodes. Mereka harus melakukan perjalanan di tengah malam, dengan persiapan minimal. Yusuf harus menjual sedikit harta yang mereka bawa untuk membeli persediaan makanan dan air untuk perjalanan melintasi Gurun Sinai.
Pelarian ini adalah perjalanan fisik dan emosional yang menyiksa. Maria, yang baru pulih dari persalinan, harus menggendong bayi Yesus di sepanjang jalan. Mereka berjalan dalam kedesakan dan ketakutan bahwa setiap suara di belakang mereka adalah langkah kaki prajurit Herodes. Mereka adalah pengungsi, melarikan diri dari teror politik. Setiap malam mereka tidur di bawah langit terbuka, berlindung di balik batu atau gua kecil, selalu siap untuk bergerak lagi. Mereka tahu bahwa bayang-bayang serigala (pasukan Herodes) terus mendekat, membantai bayi-bayi lain yang kurang beruntung. Kaki mereka lelah, hati mereka remuk memikirkan penderitaan ibu-ibu di Betlehem, namun mereka tak berhenti.
Di Mesir, mereka tiba sebagai orang asing, tanpa bahasa, tanpa uang, dan tanpa koneksi. Mereka harus memulai hidup baru dari nol. Yusuf, sebagai tukang kayu, harus bekerja keras untuk menafkahi keluarganya di tanah asing itu. Mereka menjalani hari-hari dalam kesesakan dan penantian yang tak pasti, jauh dari rumah dan orang-orang yang mereka kenal. Namun, di setiap malam yang sunyi, mereka akan berkumpul, melihat bayi itu, dan mengingat janji yang dibawa oleh malaikat. Dengan hati berat, mereka tetap menjalani semuanya ini, didorong oleh satu keyakinan: bahwa mereka adalah penjaga takdir yang lebih besar dari penderitaan mereka sendiri.
Perjalanan mereka dari Nazaret ke Betlehem, dari Betlehem ke Mesir, dan akhirnya kembali ke Galilea, adalah kisah sejati tentang iman dan ketahanan. Mereka melewati beribu-ribu rintangan, melintasi badai keraguan, melintasi segala arus kesulitan dan tirani. Maria dan Yusuf, pasangan sederhana, telah membuktikan bahwa kekuatan terbesar tidak terletak pada kekayaan atau kekuasaan, melainkan pada keutuhan hati. Maria, seorang wanita yang awalnya tidak tahu akan segala hal dan percaya dia pasti tidak akan bisa menanggung semuanya sendiri, justru menjadi teladan ketaatan yang tak tergoyahkan.
Kisah mereka adalah bukti bahwa mukjizat dan penderitaan berjalan beriringan. Mereka bisa melewati semuanya ini bukan karena kehebatan manusiawi mereka, melainkan Dalam cinta yang terus bersatu dan penyertaan Tuhan. Genggaman tangan Yusuf yang menguatkan, tatapan mata Maria yang penuh harap, dan keberadaan sang Anak di antara mereka adalah benteng terkuat.
“Kita dapat melewati semuanya ini, Yusuf,” ulang Maria, mungkin bertahun-tahun kemudian, sambil memandangi putranya yang kini telah tumbuh besar. Sebuah pernyataan sederhana, namun memuat bobot dari semua pelarian, penderitaan, dan kemenangan iman mereka.
Penulis: Faith Misi Clairine Limpele*
Penyunting: Yemima GP
(*Penulis terpilih sebagai Tiga Penulis Terbaik dari tantangan menulis Natal tahun 2025 bersama Pena Murid dengan tema Membaca Ulang Natal Lewat Wajah-Wajah yang Terlupakan)
