Aku Tidak Istimewa

Literatur Perkantas Jatim Cerita Pendek Aku Tidak Istimewa
0 Comments

Apakah kamu merasa hidupmu tidak istimewa? Apakah kamu merasa hidupmu biasa-biasa saja? Apakah kamu merasa Tuhan tidak baik kepadamu karena setiap usahamu dari dulu untuk bisa menjadi berhasil tidak ada kemajuan? Apakah kamu merasa hidupmu sia-sia? Apakah kamu merasa seperti figuran di dalam cerita hidupmu sendiri?

Memiliki kehidupan sebagai anak tengah yang tidak lebih hebat dari kakaknya dan tidak lebih taat daripada adiknya, sehingga tidak mendapat perhatian dari orang tua. Bingung jika ditanya apa bakatmu karena selama ini tidak merasa memiliki bakat yang menonjol. Tidak pernah dicari atau ditempatkan di posisi penting oleh orang-orang. Mendapatkan nilai yang tidak jelek tapi juga tidak bagus, sehingga tidak mendapat perhatian khusus dari guru. Tidak punya teman dekat karena tidak punya selera humor atau pengetahuan yang menarik minat mereka. Sulit untuk menolak perintah karena tidak berani berdebat atau beragumen. Sulit mendapatkan pasangan karena bentuk fisik. Apakah salah satu atau bahkan semua hal-hal ini sedang terjadi di hidupmu?

Hai! Kenalkan namaku Lazarus. Bukan, aku bukan Lazarus yang kamu tahu. Namaku memang sangat pasaran. Pekerjaanku adalah menjaga domba milik tuanku. Yah, seperti yang kamu tebak, orang tuaku tidak bangga dengan pekerjaanku ini. Mereka tidak pernah membanggakan pekerjaanku di depan keluarga besar. Aku jadi anak yang gagal memenuhi harapan orang tuaku. Seharusnya aku bisa menjadi pemilik domba-domba itu, tapi ternyata aku tidak mampu dan malah berakhir bekerja menjadi pegawai tuanku.

Aku tidak punya kelebihan yang bisa aku pamerkan kepadamu. Aku juga bahkan bingung dengan kelebihanku. Kalau saja aku punya kelebihan yang berguna untuk orang-orang sekitar, mungkin aku tidak akan berakhir menjadi seorang pegawai. Memang, pekerjaanku tidak seberat pekerjaan mereka yang menjadi pelayan atau tukang kayu. Meskipun aku harus memastikan domba tuanku kenyang dan aman dari hewan buas atau udara yang dingin, pekerjaan ini tetap saja membosankan karena aku hanya berjaga tanpa perlu menggunakan kelebihan khusus. Hanya tuanku saja yang bisa memanggil domba-dombanya, karena domba-dombanya mengenal suara tuanku, bukan suaraku. Jadi, tanpa arahan dari tuanku, aku juga tidak melakukan apa-apa. Hanya duduk di depan kandang domba. Aku merasa tidak berguna.

Pasangan? Sudah bisa ditebak ‘kan? Memangnya bisa orang yang setiap hari dan waktunya di depan kandang domba mendapatkan pasangan? Coba saja aku bisa bertemu dan mengobrol dengan banyak orang setiap hari, tidak hanya beberapa temanku di sini (yang juga senasib dengan aku) dan tuanku saja. Pasti lebih besar peluang untuk aku bisa bertemu dengan jodohku. Ah, aku jadi merasa kesepian. Kapan ya aku bisa punya kesempatan mencari jodohku?

Aku sama seperti kamu, bukan? Seseorang yang bukan orang istimewa atau spesial. Syukur-syukur ada orang yang masih mengingat nama kita. Tidak ada yang bisa memahami kita dengan baik, bukan? Kebanyakan mereka menghakimi kita dengan mengatakan “kamu kurang bersyukur” atau “kamu harusnya bersyukur tidak seperti aku atau orang lain” padahal sebenarnya kita hanya ingin bercerita saja bukan? Orang-orang menuduh kita terlalu memakai standar yang tinggi untuk mengejar kesuksesan padahal sebenarnya kita hanya ingin dihargai dan diperhatikan. Sebenarnya ada tidak sih cara supaya orang-orang itu setidaknya menghargai kita dan memperhatikan kita?

Hmm, aku tahu isi pikiranmu. Aku juga sempat berpikir demikian. Namun, ketika aku memikirkan hal itu, sesuatu terjadi dan mengubah pikiranku! Terserah kamu mau percaya kepadaku atau enggak, yang pasti apa yang terjadi kepadaku adalah peristiwa nyata dan tidak dilebih-lebihkan.

Begini kronologinya, suatu hari seperti biasa aku dan teman-temanku sedang duduk menjaga domba. Saat itu aku berpikir tentang hidupku yang begini-begini saja. Tiba-tiba, ada seorang memanggil kami. Ketika kami menoleh, kami terkejut! Karena kami melihat penampakan seperti orang tapi dia bersinar! Iya bersinar! Seketika kami ketakutan karena bayangkan saja, di tengah malam ada anomali seperti itu jelas kami ketakutan. Namun, sosok itu berkata kepada kami, dan aku masih ingat perkataannya. Begini katanya, “Jangan takut, sebab sesungguhnya aku memberitakan kepadamu kesukaan besar untuk seluruh bangsa: Hari ini telah lahir bagimu Juruselamat, yaitu Kristus, Tuhan, di kota Daud. Dan inilah tandanya bagimu: Kamu akan menjumpai seorang bayi dibungkus dengan lampin dan terbaring di dalam palungan.”

Iya, akulah si gembala tanpa nama yang dicatat di Lukas 2:8-20. Seperti yang sudah kamu baca, setelah sosok itu berkata demikian kepada kami tiba-tiba kami melihat sekumpulan sosok yang sama berkumpul dan bernyanyi memuji Tuhan, liriknya seperti ini: “Kemuliaan bagi Allah di tempat yang mahatinggi dan damai sejahtera di bumi di antara manusia yang berkenan kepada-Nya.” Liriknya bisa kamu temukan di ayat 14. Setelah mereka (yang aku percaya itu kumpulan malaikat) pergi dari kami, kamu membaca perkataanku kepada teman-temanku. “Marilah kita pergi ke Betlehem untuk melihat apa yang terjadi di sana, seperti yang diberitahukan Tuhan kepada kita.” Tidak mudah lho untuk secepat itu mengatakan demikian. Butuh beberapa menit aku dan teman-temanku memproses apa yang terjadi.

Kami masih memproses apakah peristiwa yang barusan kami lihat itu benar-benar pesan Allah kepada kami. Kami bukan siapa-siapa, bukan orang penting atau istimewa yang berhak mendapatkan berita sepenting itu. Namun, akhirnya kami setuju untuk pergi ke tempat yang dimaksud, toh tidak ada ruginya kita pergi ke sana. Domba-domba ini sudah tidur, dan kami tidak mau terlalu memusingkan apakah tuan kami akan datang malam-malam untuk mengawasi domba kami. Kami segera bergegas ke tempat tersebut.

Bayangan kami ketika tiba di sana akan ada banyak orang yang berkerumun melihat Juru Selamat yang dimaksud para malaikat tadi. Kami kira akan ada banyak orang penting yang datang ke sana. Tapi ternyata, hanya kami yang datang ke sana. Seketika kami menyadari, tidak hanya kami diberikan berita yang penting tapi juga berita itu disampaikan terlebih dahulu kepada kami. Lagi-lagi kami terheran-heran mengapa kami yang sebelumnya tidak pernah mendapatkan perlakuan istimewa tiba-tiba mendapatkan perlakuan yang istimewa, dari Tuhan lagi. Beberapa orang di sana, termasuk orang tua dari Bayi itu juga terheran-heran mendengar cerita kami. Beberapa ada yang tidak percaya dengan cerita kami, tapi yang membuat kami merasa peristiwa kami benar-benar nyata adalah sikap dari sang ibu dari Bayi itu yang bernama Maria. Rautnya menunjukkan bahwa dia pun juga mengalami peristiwa yang sama dengan kami, yaitu peristiwa yang diluar logika manusia.

Kamu penasaran dengan Bayi tersebut? Bayi yang kami lihat sama seperti bayi manusia pada umumnya. Tapi, ketika melihat Bayi itu aku teringat perkataan malaikat tadi. “…sebab sesungguhnya aku memberitakan kepadamu kesukaan besar untuk seluruh bangsa: Hari ini telah lahir bagimu Juruselamat, yaitu Kristus, Tuhan, di kota Daud.” “Kemuliaan bagi Allah di tempat yang mahatinggi dan damai sejahtera di bumi di antara manusia yang berkenan kepada-Nya.” Semua orang menantikan kehadiran Sang Juru Selamat, dan kami yang tidak istimewa ini menerimanya terlebih dahulu. Kami yang tidak istimewa di hadapan manusia, tidak penting di hadapan manusia ternyata diperkenankan Allah untuk menerima berita penting ini. Berita sukacita ini disampaikan kepada kita yang bukan orang penting atau istimewa.

Jelas hati kami bersukacita, menyadari bahwa kami penting dan berharga di mata Allah. Aku jadi teringat puji-pujian yang pernah aku nyanyikan di rumah ibadah, liriknya: “apakah manusia, sehingga Engkau mengingatnya? Apakah anak manusia, sehingga Engkau mengindahkannya? (Mzm. 8:5).” Dengan sukacita aku akhirnya pulang dan kembali ke tempatku sebagai penjaga domba. Memang, setelah peristiwa yang mengherankan itu aku tetap kembali sebagai penjaga domba. Aku tetap bekerja di bawah tuanku. Peristiwa tersebut tidak membuat aku tiba-tiba menjadi orang yang terkenal. Aku tetap menjadi orang yang tidak bisa dibanggakan oleh orang-orang di sekitarku. Aku tetap menjadi orang yang tidak spesial dan istimewa di dunia ini. Namun, kali ini aku tidak merasa sedih lagi karena aku tahu aku istimewa di mata Allah bukan berdasarkan penilaian orang. Ia memilihku untuk menjadi penerima kabar yang penting ini. Terlebih lagi, berita ini adalah berita bahwa Juru Selamat yang selama ini aku nantikan telah hadir. Ia menepati janji-Nya.

Peristiwa yang terjadi kepadaku bukan dicatat sebagai peristiwa sejarah. Sekalipun aku senang dicatat di dalam Alkitab, tapi jangan sampai kamu berfokus kepadaku. Aku bukan tokoh utama dalam peristiwa ini, dan aku tidak keberatan. Justru aku bersukacita bisa berbagi pengalamanku kepadamu. Ada tujuan dari Tuhan mengapa kisahku ini harus ditulis oleh seorang dokter yang bernama Lukas. Kamu bisa melihatnya di pembuka suratnya kepada tuan Teofilus. Tujuan peristiwa yang terjadi kepadaku harus dicatat supaya kamu—iya kamu, orang-orang yang bukan orang istimewa atau spesial- mengetahui dan percaya bahwa apa yang kamu baca dan dengar tentang Yesus sungguh benar (parafrase Lukas 1:4).

Aku tidak tahu bagaimana kondisi dunia di zamanmu. Aku juga tidak berhak menghakimimu, meremehkan pergumulanmu, dan tidak bermaksud membanding-bandingkan pergumulanmu dengan aku. Aku tahu, sampai saat ini kamu masih berusaha untuk bertahan di kondisi yang tidak mengenakkan, merasa diri tidak berguna. Aku bukan siapa-siapa, bukan orang yang terkenal juga. Namun aku ingin kamu percaya pesan firman Allah yang aku terima malam itu. Pesan yang aku terima juga berlaku untukmu, bukan sebuah kebetulan kalau kamu saat ini mendengarkan pesan penuh sukacita ini di saat kamu sedang merasa hidupmu tidak istimewa. Pesan yang Allah sampaikan melalui malaikat ditujukan kepada kita semua tanpa terkecuali, yaitu Juru Selamat telah hadir. Ia hadir bukan untuk orang-orang yang spesial atau istimewa, tapi Ia juga hadir untukmu. Ia menyelamatkan kamu juga sekalipun menurut dunia kamu tidak sepenting itu untuk “diselamatkan”.

Jadi, jangan sedih lagi ya sekalipun kamu merasa dirimu tidak berharga dan istimewa, sekalipun orang-orang tidak memperhatikan atau mengandalkanmu, sekalipun kamu merasa tidak berguna di dunia ini, ingatlah bahwa Tuhan Allah mengingatmu, Ia mempedulikanmu, Ia mengasihimu. “Hari ini telah lahir bagimu Juruselamat, yaitu Kristus, Tuhan, di kota Daud.” Berita ini bukan berita yang sudah berlalu. Hari ini, kapan pun kamu membaca tulisanku ini, Yesus Kristus sudah hadir untukmu. Ia tak hanya hadir tapi juga menyelamatkan-Mu. Ia tidak memusingkan hasil karyamu atau perbuatanmu yang kamu kejar di dunia ini. Kasih kekal-Nya cukup untuk membuat kamu merasa berharga di dunia ini. Selamat Natal ya! Kiranya kasih dan damai Kristus benar-benar lahir di hatimu.


Penulis: Cynthia Sentosa*
Penyunting: Yemima GP

(Penulis adalah peserta dari tantangan menulis Natal tahun 2025 bersama Pena Murid dengan tema Membaca Ulang Natal Lewat Wajah-Wajah yang Terlupakan)

Categories:
jperkantas

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Berkaca dari Yusuf
Natal hadir setiap tahun dalam hidup kita. Ada banyak hal yang bisa lewat di kepala
Dengan Cinta yang Terus Bersatu dan Penyertaan Tuhan
Dalam bayang-bayang terdengar suara samar-samar. Ia menggumam. Dalam layar pikirku ia terus hadir. Lelaki berjenggot
Jika Aku Menjadi Seekor Domba
Sepertinya, tidak ada tema natal yang lebih absurd daripada memikirkan jika aku menjadi seekor domba.
Avi
“Hati membutuhkan waktu lebih banyak untuk menerima apa yang sudah diketahui pikiran.” Iya, iya, aku
Satu Hari Lagi, Akan Kulalui di Dalam Penyertaan Tuhan
“Tetapi Maria menyimpan segala perkara itu dalam hatinya dan merenungkannya.” (Luk. 2:19)   Apa rasanya
Konjungsi Agung yang Sesungguhnya
Penelitian bertahun-tahun akhirnya membawa mereka pada titik ini. Perjalanan ke Yudea, hanya bertiga saja, mengejar
Bertemu Para Majus
Tahun ini tidak seperti tahun-tahun sebelumnya. Bila dijadikan sebuah buku, setiap bulannya menggambarkan satu bagian
Berjumpa dengan Yesus
Maka kembalilah gembala-gembala itu sambil memuji dan memuliakan Allah karena segala sesuatu yang mereka dengar
Burdened with Glorious Purpose
Bagaimana rasanya mengemban sebuah “beban panggilan yang mulia”? Mungkin kita bisa melihat teladan dari Yusuf