Berkaca dari Yusuf

Literatur Perkantas Jatim Renungan Berkaca dari Yusuf
0 Comments

Natal hadir setiap tahun dalam hidup kita. Ada banyak hal yang bisa lewat di kepala kita ketika mendengar kata Natal. Teringat pohon natal, suasana malam bersalju, perapian yang menyala di ruangan indah yang telah didekorasi meriah beserta kado-kado Natal, sampai kepada kisah kelahiran Yesus yang tertera di Alkitab. Jujur,  Desember juga jadi bulan yang sangat sibuk, karena setiap kita yang aktif melayani di gereja akan sangat padat mengurus dan mengadakan acara Natal, dari ibadah Natal, tukar kado, Christmas Dinner dan lain-lain.

Namun Natal kali ini, selain dari berbagai suasana Natal yang terus terang sangat saya sukai di resto atau café atau Mall di Jakarta dan berbagai kesibukan untuk mempersiapkan Ibadah Natal di gereja, sebuah postingan ajakan menulis tentang Kisah Natal dari Instagram Rima Rilis membuat saya berpikir. Minimal 1500 kata. Mau tulis apa saja ya? Saya mencoba untuk menulis. Siapa tahu ada yang Tuhan ingin saya temukan ketika saya menggali dan merenung tentang Natal.

Saya memilih untuk merenungkan seseorang yang secara hukum dianggap sebagai ayahnya Yesus. Ya, Yusuf namanya. Rasanya orang Kristen akan mudah menjawab jika ditanya siapa ayahnya Yesus waktu Yesus jadi manusia di bumi. Banyak orang seakan lebih sering mengingat atau merenungkan apa yang Maria, Ibu Yesus alami dan jalani. Tapi saat ini entah mengapa, saya kok kepikiran sama Yusuf. Seharusnya sebagai ayah Yesus, ia seseorang yang special, bukan? Namun Yusuf rasanya tidak banyak disebut di Alkitab. Seperti lewat begitu aja. Saat Natal, belum tentu juga Yusuf dibahas.

Pada waktu itu Yusuf adalah pria yang sedang akan memasuki fase baru dalam hidupnya.  Yusuf akan menikah dengan Maria, tunangan yang dikasihinya. Seharusnya ini adalah saat-saat yang bahagia untuk Yusuf dan Maria bersiap mengarungi hidup baru sebagai pasangan suami istri. Namun sekonyong-konyong Maria hamil. Ini kalo dipikir-pikir rasanya GONG banget gak sih. Hamil?? Hallooo.. Kok bisa? Hamil sama siapa? Respons Yusuf harusnya marah, mungkin juga curiga pada Maria, “ternyata di belakang gue dia ini berhubungan sama laki-laki lain sampai hamil?” Ngamuk pun masih bisa diterima. Karena ini ‘kan pengkhianatan ya. Mereka sudah bertunangan dan berencana menikah lho. Kok ya bisa bisanya hamil. Segala penyampaian dari Maria yang mengatakan bahwa ia mengandung dari Roh Kudus dapat dengan mudah dicibir karena tidak masuk akal. Ini mah akal-akalan Maria saja, cari alasan aneh untuk menutupi aib. Atau mungkin Maria udah hilang akal sehatnya terus jadi ngaco dan ngarang cerita aneh begini?

Kalau kita baca kisahnya di Matius 1:18-25, ceritanya tidak terlalu panjang dan langsung beres. Tidak seperti Drama Korea yang 12 episode atau Drama Cina yang bisa 40 episode.  Ini singkat, padat, jelas.  Saking singkatnya, rasanya saya pun tak pernah betul-betul membayangkan gimana ini kalo jadi Yusuf. Rasanya sih bukan hadeh lagi. Tapi hadeeeeehhhhh banget. Tidak mudah untuk diterima. Namun dari cerita singkat itu saya bisa belajar beberapa hal dari Yusuf.

Hal pertama yang bisa saya teladani dari Yusuf adalah ia tidak grasa-grusu dalam berkata-kata maupun bertindak. Dalam bayangan saya, berita bahwa Maria mengandung itu seharusnya memicu reaksi keras. Entah lewat kata-kata ataupun tindakan nyata, misalnya marah, mengamuk, menuduh Maria lalu memutuskan pertunangan. Sebagai laki-laki, harga diri mau ditaruh di mana jika calon istrinya tetiba hamil padahal mereka tak pernah berhubungan suami istri?

Namun Yusuf tidak demikian. Sebab, jika Yusuf berkoar-koar, mungkin Maria sudah mengalami sanksi yang tidak main-main pada masa itu. Zaman sekarang hamil sebelum nikah mungkin lebih tidak mengejutkan, tapi bagi beberapa keluarga di Indonesia, ini pun tetap bisa jadi bahan gosip. Sedangkan pada masa itu, nyawa Maria bisa jadi taruhannya. Namun kita melihat semuanya aman, artinya Yusuf tidak langsung bereaksi membabi buta.

Hal kedua yang mengagumkan adalah dituliskan bahwa Yusuf adalah “seorang yang tulus hati dan tidak mau mencemarkan nama isterinya (Maria) di depan umum” (Mat. 1:19). Coba lihat kalau zaman sekarang, begitu ada pihak yang berkonflik, maka memaparkannya di media sosial sudah menjadi senjata yang umum. Mereka bilang “biar dirujak netizen”. Sanksi sosial akan sangat ‘kena’ banget. Netizen akan ramai-ramai menganiaya, mem-bully dan mengucapkan kalimat-kalimat yang sangat menyakitkan hati. Demikian juga jika ini menyangkut pasangan alias suami istri. Misalnya ada pasangan yang mau bercerai/berpisah. Maka biasanya akan ada saling memaparkan kekurangan alias dosa pasangannya. Dari hal yang biasa sampai hal yang pribadi bisa jadi konsumsi publik. Terlepas dari fakta bahwa Yusuf merasa pantas mempermalukan Maria, tetapi Yusuf tidak melakukan itu. Ia memikirkan Maria. Ia tidak mau mencemarkan nama Maria.

Hal ketiga yang mempesona dari seorang Yusuf adalah ketika ia mempertimbangkan langkah apa yang harus ia ambil, lalu ia di dalam mimpinya menerima pesan dari malaikat Tuhan bahwa memang bayi yang dikandung Maria adalah dari Roh Kudus. Ketika bangun dari tidurnya, tertulis Yusuf berbuat seperti yang diperintahkan malaikat Tuhan itu kepadanya. Ia mengambil Maria sebagai istrinya. Apa yang mempesona? Ia rela menyerahkan mimpi dan rencananya sendiri serta taat sama rencana Allah.

Setiap orang punya rencana dalam hidupnya. Saya yakin Yusuf juga demikian. Ia pasti sudah punya harapan dan keinginan kehidupan keluarga seperti apa yang akan ia dan Maria jalani. Namun tiba-tiba ada rencana Allah yang ditetapkan untuk hidup mereka dan bahkan sampai nama bayinya saja sudah ditentukan. Seolah-olah, mimpi yang sudah terangkai indah di kepala langsung ambyar dan kita harus ikut rencana lain yang bukan rencana kita. Namun Yusuf tidak tantrum atau ngambek dengan setengah hati menjalaninya. Tertulis jelas bahwa dia berbuat seperti yang diperintahkan malaikat Tuhan itu kepadanya. Dia rela ‘membuang mimpinya’ dan ikut serta dalam mimpinya ALLAH.

Semua pembelajaran itu menampar ‘ego’ saya. Hal yang pertama adalah tidak grasa-grusu berkata-kata dan bertindak, sekalipun kita merasa ‘cuma korban’.  Saya sadar, kalau saya merasa mengalami hal yang tak baik, saya bisa cepat bereaksi. Paling tidak mengomel atau mengoceh, yang mana belakangan biasanya saya baru menyesal. Baru dengar sebuah berita buruk, langsung cepat berpikir negatif dan berkeluh kesah.  Padahal Firman Tuhan bilang kita harus cepat mendengar, namun lambat berkata-kata dan lambat untuk marah.

Hal yang kedua, bisa jadi kalau saya merasa dirugikan atau dikhianati, saya belum tentu mau repot-repot untuk jaga nama baik orang. Kalau enggak ribet banget sih masih okelah ya, tapi jika berkaitan sama hidup saya, bermasalah dengan saya, bisa jadi saya tidak mau sebegitunya jaga nama baik orang. Kalau pun saya masih mau “berbaik hati”  menjaga nama orang lain, paling tidak beberapa orang perlu saya beritahu kebenaran yang sesungguhnya. Supaya orang tetap tahu dia itu bagaimana sebenarnya dan saya ini pihak yang benar dan baik. Menulis bagian ini sebenarnya membuat saya malu, tetapi saya akui, kadang-kadang saya masih begitu.

Hal ketiga adalah tentang rancangan Allah. Saya tidak suka kalau rencana saya diubah-ubah. Saya tidak suka kejutan. Kejutan membuat saya merasa tak aman. Hilang kendali. Tidak bisa membayangkan tentang apa yang di depan. Kalau waktu itu saya yang jadi Yusuf, mungkin saya akan bilang: Ini bisa orang lain aja sajakah? Saya sudah punya rencana sendiri. Belum tentu rencana Allah sama kan dengan keinginan saya? Si paling sok pinter ngatur. Rencana Tuhan dianggap kalah oke dibanding rencana sendiri.

Gara-gara menulis perenungan Natal dan belajar dari Yusuf, saya jadi diberi materi untuk mengkalibrasi hati lagi. Tuhan harus yang bertahta di hati saya. Bukan penerimaan dari orang lain ataupun pandangan orang lain tentang saya. Bukan pada kendali yang kokoh pada rencana kehidupan saya. Bukan keinginan dan kesenangan saya, tetapi kehendak-Nya yang sempurna boleh terjadi dalam hidup saya yang begitu jauh dari sempurna. Kisah tentang apa yang Yusuf lakukan membuat saya memandang juga kepada teladan yang sejati, yaitu Yesus sendiri.

Yesus adalah gambaran Yusuf yang sempurna. Ketika kita dalam kondisi tak baik, rusak, tak layak, Yesus tidak berencana membuang kita. Yesus justru datang ke dunia, menebus, menyucikan kita dengan mengorbankan nyawa-Nya bagi kita. Yesus bersedia mengerjakan rencana Allah Bapa yang besar bagi dunia ini, sekalipun harus menderita di kayu salib. Bukan rencana yang nyaman buat dilalui Yesus, tapi Yesus taat sampai mati di kayu salib kepada rencana Allah Bapa.

Biarlah Natal kali ini menjadi momen kalibrasi hati bagi kita semua.


Penulis: Airin Valeda Josiah*
Penyunting: Yemima GP

(Penulis adalah peserta dari tantangan menulis Natal tahun 2025 bersama Pena Murid dengan tema Membaca Ulang Natal Lewat Wajah-Wajah yang Terlupakan)

Categories:
jperkantas

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Aku Tidak Istimewa
Apakah kamu merasa hidupmu tidak istimewa? Apakah kamu merasa hidupmu biasa-biasa saja? Apakah kamu merasa
Dengan Cinta yang Terus Bersatu dan Penyertaan Tuhan
Dalam bayang-bayang terdengar suara samar-samar. Ia menggumam. Dalam layar pikirku ia terus hadir. Lelaki berjenggot
Jika Aku Menjadi Seekor Domba
Sepertinya, tidak ada tema natal yang lebih absurd daripada memikirkan jika aku menjadi seekor domba.
Avi
“Hati membutuhkan waktu lebih banyak untuk menerima apa yang sudah diketahui pikiran.” Iya, iya, aku
Satu Hari Lagi, Akan Kulalui di Dalam Penyertaan Tuhan
“Tetapi Maria menyimpan segala perkara itu dalam hatinya dan merenungkannya.” (Luk. 2:19)   Apa rasanya
Konjungsi Agung yang Sesungguhnya
Penelitian bertahun-tahun akhirnya membawa mereka pada titik ini. Perjalanan ke Yudea, hanya bertiga saja, mengejar
Bertemu Para Majus
Tahun ini tidak seperti tahun-tahun sebelumnya. Bila dijadikan sebuah buku, setiap bulannya menggambarkan satu bagian
Berjumpa dengan Yesus
Maka kembalilah gembala-gembala itu sambil memuji dan memuliakan Allah karena segala sesuatu yang mereka dengar
Burdened with Glorious Purpose
Bagaimana rasanya mengemban sebuah “beban panggilan yang mulia”? Mungkin kita bisa melihat teladan dari Yusuf