Membangun Literasi dan Spiritualitas bersama SMA Athalia

Literatur Perkantas Jatim Berita Membangun Literasi dan Spiritualitas bersama SMA Athalia
0 Comments

Pada tanggal 12 Agustus 2025, SMA Athalia, Tangerang Selatan, menjadi tuan rumah acara menarik bertajuk Literacy Day Experience: Membaca dan Menulis untuk Mengenal Diri dan Mendengar Suara Tuhan”.  mAcara ini menghadirkan dua pembicara inspiratif: Kak Alex Nanlohy, S.Sos., M.A., serta Kak Yemima Galih Pradipta dari Literatur Perkantas Jatim. Acara ini bertujuan untuk mengedukasi para siswa agar giat mengembangkan literasi dan membangun spiritualitas mereka melalui membaca dan menulis. Pelatihan ini diadakan di perpustakaan, sehingga siswa-siswi dapat lebih merasakan nuansa literasi dengan lebih dekat.

Kak Alex, salah seorang penulis di buku Let’s Go dan Be Bold terbitan Literatur Perkantas Jatim, sekaligus hamba Tuhan yang giat mengkampanyekan soal literasi, berbagi pandangannya tentang bagaimana membaca buku dapat memperkaya spiritualitas seseorang. Sementara itu, Kak Yemima memberikan pelatihan literasi yang kreatif, mengajak para siswa untuk mengeksplorasi ide-ide melalui tulisan. Acara ini merupakan bagian dari sosialisasi kehadiran Literatur Perkantas dalam Indonesia International Book Fair (IIBF) 2025 yang akan digelar pada 24-28 September 2025.

Selain itu, yang membuat acara ini spesial adalah antusiasme 55 siswa kelas 10-12 yang hadir. SMA Athalia memang dikenal sebagai sekolah yang mendukung pengembangan literasi. Perpustakaan yang dikelola oleh SMA Athalia ini menyediakan buku-buku yang berguna bagi pendidikan para siswa, tetapi sekaligus menghadirkan buku-buku baru yang sesuai perkembangan zaman. Dengan berbagai program seperti sayembara menulis dan proyek penulisan biografi guru, sekolah ini terus mendorong siswa untuk mencintai membaca dan menulis.

Kak Alex sempat terkejut melihat minat siswa terhadap buku fisik di tengah era digital. Ia memulai sesi dengan bertanya tentang kebiasaan membaca mereka, yang ternyata cukup kuat. Di sesi berikutnya, Kak Yemima memberikan tantangan menulis menggunakan dua prompt: kata “ramah” dan gambar seorang pria yang memeluk anak laki-laki. Siswa diajak untuk melakukan interpretasi bebas dari kedua tema tersebut. Metode ini agak berbeda dengan pelatihan literasi yang beberapa kali dilakukan Literatur Perkantas Jatim di beberapa Perkantas daerah.

Hasilnya luar biasa! Ada siswa yang menulis tentang dunia yang kekurangan orang-orang hangat, sementara yang lain menciptakan cerita pendek yang menyentuh tentang kasih Tuhan yang menghangatkan kesendirian. Kreativitas mereka benar-benar mencerminkan potensi besar generasi muda dalam literasi.

Acara ini juga menjadi langkah awal menuju pameran IIBF 2025, di mana Literatur Perkantas Jatim bersama lima penerbit Kristen lainnya akan berbagi stand di bawah nama “Persekutuan Literatur Kristen Indonesia.” Harapannya, siswa-siswi SMA Athalia dan guru-guru mereka dapat hadir dan mendukung pameran tersebut.

Melihat semangat literasi di SMA Athalia, Kak Alex dan Kak Yemima optimis bahwa komunitas Kristen di Indonesia memiliki masa depan cerah dalam pengembangan literasi. Semoga kegiatan seperti ini terus berlanjut, menciptakan generasi yang tidak hanya cerdas tetapi juga kaya secara spiritual. (YGP)

Categories:
jperkantas

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Berkaca dari Yusuf
Natal hadir setiap tahun dalam hidup kita. Ada banyak hal yang bisa lewat di kepala
Aku Tidak Istimewa
Apakah kamu merasa hidupmu tidak istimewa? Apakah kamu merasa hidupmu biasa-biasa saja? Apakah kamu merasa
Dengan Cinta yang Terus Bersatu dan Penyertaan Tuhan
Dalam bayang-bayang terdengar suara samar-samar. Ia menggumam. Dalam layar pikirku ia terus hadir. Lelaki berjenggot
Jika Aku Menjadi Seekor Domba
Sepertinya, tidak ada tema natal yang lebih absurd daripada memikirkan jika aku menjadi seekor domba.
Avi
“Hati membutuhkan waktu lebih banyak untuk menerima apa yang sudah diketahui pikiran.” Iya, iya, aku
Satu Hari Lagi, Akan Kulalui di Dalam Penyertaan Tuhan
“Tetapi Maria menyimpan segala perkara itu dalam hatinya dan merenungkannya.” (Luk. 2:19)   Apa rasanya
Konjungsi Agung yang Sesungguhnya
Penelitian bertahun-tahun akhirnya membawa mereka pada titik ini. Perjalanan ke Yudea, hanya bertiga saja, mengejar
Bertemu Para Majus
Tahun ini tidak seperti tahun-tahun sebelumnya. Bila dijadikan sebuah buku, setiap bulannya menggambarkan satu bagian
Berjumpa dengan Yesus
Maka kembalilah gembala-gembala itu sambil memuji dan memuliakan Allah karena segala sesuatu yang mereka dengar
Burdened with Glorious Purpose
Bagaimana rasanya mengemban sebuah “beban panggilan yang mulia”? Mungkin kita bisa melihat teladan dari Yusuf