Temu Pembaca Surabaya: Perpustakaan sebagai Ruang Perjumpaan

Literatur Perkantas Jatim Berita Temu Pembaca Surabaya: Perpustakaan sebagai Ruang Perjumpaan
0 Comments

Bagaimana seorang Kristen dapat mengerti buku apa yang tepat untuk ia baca? Salah satu jawabannya adalah mengenalkannya pada perpustakaan. Perpustakaan menjadi ruang perjumpaan, tidak hanya antara manusia dengan buku, tetapi juga antara satu pembaca dengan pembaca lain. Departemen Literatur dari Perkantas Jatim memanfaatkan momen Bulan Literasi ini untuk mengadakan Temu Pembaca Surabaya.

Grace, mahasiswa di Surabaya.

Grace, seorang mahasiswa Surabaya, menceritakan bahwa ini adalah pertama kalinya ia mengikuti Temu Pembaca. Sebagai seorang mahasiswa yang hidup sendiri, sering kali ia memilih untuk datang ke suatu cafe yang nyaman, dengan musik yang familiar dan segelas kopi dingin untuk menemaninya membaca. Namun di sore itu, ia memutuskan untuk ikut Temu Pembaca dan berjumpa dengan sepuluh pembaca Kristen lain. Acara ini diadakan pada Minggu, 14 September 2025.

Membaca Senyap Bersama

Membaca senyap bersama

Beberapa dari mereka datang dengan membawa buku masing-masing. Grace sendiri membawa buku berjudul Not a Fan karya Kyle Idleman, begitu juga Shinta, seorang dosen dari kampus di Surabaya, yang membawa buku Cherish oleh Gary Thomas. Keduanya terbitan Literatur Perkantas Jatim. Beberapa lainnya diizinkan memilih buku dari koleksi Perpustakaan Perkantas Jatim. Ada Lani, seorang mahasiswa, yang memilih novel The Dead Poets Society oleh N.H. Kleinbaum, dan Theo, seorang mahasiswa lain yang memilih buku It’s Okay not to be Okay oleh Sheila Walsh.

Pertemuan hari itu dihadiri oleh 13 orang ditambah dengan seorang pembaca kecil bernama Calvin yang kehadirannya cukup menghibur dan memberi warna pada pertemuan hari itu. Setelah semua hadir, Kak Yemima, staf Literatur Perkantas Jatim, memberikan waktu selama 45 menit bagi peserta untuk membaca buku masing-masing, keheningan menutupi ruangan sampai Kak Mima memutar lagu-lagu classic untuk menemani bacaan para peserta, semua orang terhanyut dalam bacaannya termasuk Calvin si pembaca termuda hari itu.

Membagikan Bersama Bacaan Masing-Masing

Setelah itu, peserta Temu Pembaca dibagi menjadi tiga kelompok diskusi. Tiap kelompok terlihat bersemangat membagikan apa yang sudah mereka baca dan saling menanggapi isi bacaan. Seperti Acha, yang begitu tertarik dengan buku Undaunted oleh Christine Caine yang ia ambil dari Perpustakaan Perkantas Jatim. “Si penulis ditanyai, kenapa kamu mau mengerjakan pelayanan misi yang berbahaya untuk menyelamatkan korban sex trafficking? Penulis ini menjawab, bahwa Allah sudah menolong dia untuk pulih dari pelecehan yang dia alami, untuk itulah dia akhirnya berkomitmen untuk menolong mereka yang mengalami hal yang sama. Wow!” Wajah Acha berseri-seri menceritakan isi buku tersebut.

 

Misi Perpustakaan Perkantas Jatim

 

Temu Pembaca diakhiri dengan permainan singkat menebak judul buku. Kesempatan ini juga dipakai oleh Departemen Literatur dari Perkantas Jatim untuk memberikan kampanye literasi Kristen. Perpustakaan Perkantas Jatim menjadi sebuah sebuah “ruang tunggu” bagi gerakan pemuridan dan misi, dan rekan-rekan siswa, mahasiswa dan alumni Perkantas Surabaya diundang untuk datang dan membaca buku-buku yang ada. Tentunya, ada banyak kategori buku yang diharapkan dapat menjawab kebutuhan para pembaca.

Grace juga membagikan kesannya terhadap acara ini. “Menarik sekali bagi saya bagaimana dalam satu pertemuan Temu Pembaca yang cukup singkat, memberikan saya makna untuk sebuah hobi yang sering saya nikmati dalam kesendirian, sebagai satu hal yang bisa dikerjakan bersama-sama. Sharing dari teman pembaca lain membantu saya melihat sudut pandang para rekan pembaca lainnya.”

 

Harapan kami, ini tidak hanya menjadi momen khusus di bulan literasi, tetapi dapat mendorong gerakan membaca yang lebih masif diantara komunitas Kristen terutama di Perkantas Surabaya.


Teks: Grace Julieta Marpaung, Mima GP

Penyunting: Mima GP

Categories:
jperkantas

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Berkaca dari Yusuf
Natal hadir setiap tahun dalam hidup kita. Ada banyak hal yang bisa lewat di kepala
Aku Tidak Istimewa
Apakah kamu merasa hidupmu tidak istimewa? Apakah kamu merasa hidupmu biasa-biasa saja? Apakah kamu merasa
Dengan Cinta yang Terus Bersatu dan Penyertaan Tuhan
Dalam bayang-bayang terdengar suara samar-samar. Ia menggumam. Dalam layar pikirku ia terus hadir. Lelaki berjenggot
Jika Aku Menjadi Seekor Domba
Sepertinya, tidak ada tema natal yang lebih absurd daripada memikirkan jika aku menjadi seekor domba.
Avi
“Hati membutuhkan waktu lebih banyak untuk menerima apa yang sudah diketahui pikiran.” Iya, iya, aku
Satu Hari Lagi, Akan Kulalui di Dalam Penyertaan Tuhan
“Tetapi Maria menyimpan segala perkara itu dalam hatinya dan merenungkannya.” (Luk. 2:19)   Apa rasanya
Konjungsi Agung yang Sesungguhnya
Penelitian bertahun-tahun akhirnya membawa mereka pada titik ini. Perjalanan ke Yudea, hanya bertiga saja, mengejar
Bertemu Para Majus
Tahun ini tidak seperti tahun-tahun sebelumnya. Bila dijadikan sebuah buku, setiap bulannya menggambarkan satu bagian
Berjumpa dengan Yesus
Maka kembalilah gembala-gembala itu sambil memuji dan memuliakan Allah karena segala sesuatu yang mereka dengar
Burdened with Glorious Purpose
Bagaimana rasanya mengemban sebuah “beban panggilan yang mulia”? Mungkin kita bisa melihat teladan dari Yusuf