Membaca Dalam Era Digital: Antara Hikmat & Algoritma

Literatur Perkantas Jatim Berita Membaca Dalam Era Digital: Antara Hikmat & Algoritma
0 Comments

Apakah membaca masih relevan di era digital ini? Bagaimana bisa tetap bertumbuh dalam hikmat di tengah dunia yang serba instan dan cepat serta penuh algoritma?

Pada Rabu 21 Mei 2025 lalu, Talkshow dalam rangka Reading Habit Track dengan tema “Membaca Dalam Era Digital: Antara Hikmat dan Algoritma” menjawab bagian ini. Dihadiri sekitar 64 peserta dari berbagai penjuru Indonesia, talkshow yang dilaksanakan via zoom ini menghadirkan dua bintang tamu yang ahli dalam bidangnya, Kak Brilliant Yotenega, penulis buku “Rahasia Salinem” serta pengulik AI dan juga menghadirkan Kak Geget E. Sucining Hyang, seorang pendeta GKJ Bogor dan pegiat literasi gereja. Acara dimulai pukul 18.30 WIB.

Kegiatan diawali dengan pembukaan oleh Kak Yemima Pradipta, salah satu staf Perkantas Jatim yang berperan sebagai moderator menjelaskan sedikit mengenai kegiatan Reading Habit Tracker yang rutin diadakan oleh Literatur Perkantas Jatim melalui Rima Rilis. Talkshow ini merupakan rangkaian kegiatan Reading Habit Tracker 2025, dan diadakan bertepatan dengan Hari Buku Nasional (17 Mei 2025).

Pada acara ini, Kak Hardi Wiyono sebagai pemenang RHT 2024 tahun lalu diberi kesempatan untuk berbagi. “Adanya teman membaca dan saling sharing membuat saya terdorong dan termotivasi untuk terus membaca. Membaca buku tidak hanya menjadi sebuah kesenangan tetapi juga suatu kebutuhan,” ucap Kak Hardi. Hal ini lantas disambut anggukan setuju oleh Kak Mima.

Selanjutnya, moderator memperkenalkan dua bintang tamu yang mendapat antusias dari peserta-peserta Talkshow, rasa sukacita seketika tercipta dalam Talkshow malam itu. Kedua bintang tamu bertukar cerita singkat ketika berinteraksi di ruang Zoom, yang disambut senyum hangat oleh para peserta yang mendengar itu. “Bagaimana, kita bisa menjelaskan pada orang awam khususnya kaum muda dan orang-orang dewasa bahwa membaca itu penting bagi kita?” adalah pertanyaan pertama yang dilontarkan oleh Kak Mima untuk memantik diskusi.

“Dengan kita membaca buku, kita tidak hanya memperoleh pengetahuan dan informasi, tetapi juga dapat mengubah hati dan pola pikir kita. Kita tidak hanya ‘didikte’ oleh pemberi informasi, tapi kita menggunakan imajinasi kita untuk berpikir,” ucap Kak Ega dan menjadi pernyataan yang bermakna. Kak Geget pun memberi pernyataan untuk menjawab pertanyaan yang sama bahwa buku dapat membantu kita dalam kreativitas, dan Kak Geget percaya bahwa pembaca dan buku akan menemukan jalannya sendiri-sendiri. Pernyataan yang mengundang tawa dari para peserta.

Pertanyaan kedua dilontarkan oleh Kak Mima mengenai budaya cepat saji yang sedang marak terjadi “Apakah budaya cepat saji ini berbahaya terhadap budaya membaca dan merenungkan suatu hal dengan dalam, dan bagaimana kita mengatasinya?” Kak Geget mengamini fenomena yang ada memang menjadi tantangan besar, khususnya bagi anak muda. “Budaya instan ini memang menghilangkan budaya ‘kedalaman’, yang tidak hanya mengganggu dalam budaya membaca tetapi juga cara-cara kita berpikir,” tutur Kak Geget.

Di sisi lain, Kak Ega juga melontarkan pernyataan yang cukup membukakan pemikiran, bahwa budaya cepat saji ini memang sudah diterapkan sedari dulu dan berpengaruh terhadap cara orang berpikir kritis—cara berpikir yang sering disepelekan dengan adanya budaya cepat saji. Dengan kata lain, kita sedang berperang melawan sistem cara berpikir yang sudah ada sejak lama dalam pendidikan kita, di mana murid-murid kerap diajarkan “cara cepat mencari jawaban”. Kak Geget mengamini, bahwa kita perlu untuk terus mempopulerkan dan membuat anak-anak muda menjadi kepo akan membaca—suatu peran yang perlu niat serius oleh gereja.

Talkshow RHT 2025: Membaca dalam Era Digital

Terdapat 71 peserta yang hadir secara online di dalam acara ini

Selama hampir satu jam lebih, terjadi diskusi yang kaya dan respons peserta yang beragam melalui pertanyaan-pertanyaan yang kritis. Talkshow malam itu ditutup dengan sesi foto bersama dan dilanjut dengan beberapa kegiatan literasi yang dilakukan Rima Rilis. Talkshow berjalan dengan penuh sukacita walaupun dihimpit dengan waktu yang terbatas, tetapi dari perbincangan singkat itu membukakan kembali pemikiran bahwa membaca adalah suatu hal yang esensial di era modern ini.

Orang-orang Kristen perlu untuk terus membaca dan merenungkan Firman, sehingga kita tidak ikut diombang-ambingkan oleh dunia yang instan dan dijejali algoritma. Dan kita percaya bahwa Tuhan bisa berkarya dan bicara melalui buku-buku yang kita baca. Harapannya, kegiatan Reading Habit Tracker ini bisa menjadi wadah bagi orang-orang Kristen untuk terus berkomitmen dalam membaca. Tuhan memberkati. (PLP/YGP)

Categories:
jperkantas

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Berkaca dari Yusuf
Natal hadir setiap tahun dalam hidup kita. Ada banyak hal yang bisa lewat di kepala
Aku Tidak Istimewa
Apakah kamu merasa hidupmu tidak istimewa? Apakah kamu merasa hidupmu biasa-biasa saja? Apakah kamu merasa
Dengan Cinta yang Terus Bersatu dan Penyertaan Tuhan
Dalam bayang-bayang terdengar suara samar-samar. Ia menggumam. Dalam layar pikirku ia terus hadir. Lelaki berjenggot
Jika Aku Menjadi Seekor Domba
Sepertinya, tidak ada tema natal yang lebih absurd daripada memikirkan jika aku menjadi seekor domba.
Avi
“Hati membutuhkan waktu lebih banyak untuk menerima apa yang sudah diketahui pikiran.” Iya, iya, aku
Satu Hari Lagi, Akan Kulalui di Dalam Penyertaan Tuhan
“Tetapi Maria menyimpan segala perkara itu dalam hatinya dan merenungkannya.” (Luk. 2:19)   Apa rasanya
Konjungsi Agung yang Sesungguhnya
Penelitian bertahun-tahun akhirnya membawa mereka pada titik ini. Perjalanan ke Yudea, hanya bertiga saja, mengejar
Bertemu Para Majus
Tahun ini tidak seperti tahun-tahun sebelumnya. Bila dijadikan sebuah buku, setiap bulannya menggambarkan satu bagian
Berjumpa dengan Yesus
Maka kembalilah gembala-gembala itu sambil memuji dan memuliakan Allah karena segala sesuatu yang mereka dengar
Burdened with Glorious Purpose
Bagaimana rasanya mengemban sebuah “beban panggilan yang mulia”? Mungkin kita bisa melihat teladan dari Yusuf