Launching Exploring My Emotions: Mencicip Pengalaman Memproses Emosi

Literatur Perkantas Jatim Berita Launching Exploring My Emotions: Mencicip Pengalaman Memproses Emosi
0 Comments

Suasana  Minggu sore, 21 September 2025, di Baca Buku Tebet terasa hangat dan akrab. Di tengah rak-rak buku dan tawa percakapan ringan, karya terbaru Andre Pandilih, berjudul Exploring My Emotions, resmi diluncurkan dalam acara bertajuk “Taste the Experience: A Journey to Explore Emotions Together.” Peluncuran ini menjadi bagian dari rangkaian roadshow promosi dari Literatur Perkantas Jatim untuk Indonesia International Book Fair 2025.

Andre Pandilih, penulis “Exploring My Emotions”

Peluncuran Buku sekaligus Journaling Bersama

Peluncuran ini diadakan secara hybrid, mempertemukan peserta dari berbagai kota—baik yang hadir langsung maupun daring—untuk sejenak berhenti dari rutinitas, merenung, dan mencicipi pengalaman yang ditawarkan buku tersebut. “Sering kali kita lupa mendengar apa yang sebenarnya kita rasakan,” ujar Andre di sela percakapan. “Lewat buku ini, saya ingin mengajak kita menoleh ke dalam dan menemukan Tuhan di balik setiap emosi kita.”

Peserta yang mengikuti dari Zoom

Tak hanya peluncuran, sesi journaling dan refleksi menjadi bagian paling berkesan dalam acara ini. Para peserta diajak menuliskan perasaan mereka, membaca kembali pengalaman hidup dengan jujur, dan menyadari bahwa setiap emosi memiliki makna ketika diproses bersama Allah. Melalui sesi ini, suasana menjadi begitu personal, seolah setiap orang sedang menapaki halaman hidupnya sendiri.

Peserta melakukan journaling dari cuplikan isi buku Exploring My Emotions

Penulis bersama tim Literatur Perkantas Jatim sengaja merancang acara launching ini agar tidak hanya sekadar seremonial, tetapi sebuah perjalanan bersama untuk memproses emosi dan menemukan kasih Tuhan di tengah setiap rasa yang dialami. Peserta diperdengarkan pembacaan puisi, alunan musik lembut, disediakan kertas dan pensil untuk journaling, dan diberikan beberapa pertanyaan penolong.

Setelah itu, kami mendengarkan bersama beberapa respons teman-teman peserta. Tak disangka, banyak dari mereka justru bukan remaja atau anak muda, tetapi pengajar, guru dan pemimpin pelayanan anak-anak muda. Seorang peserta mengaku, sebelumnya ia merasa minder jika ingin melayani anak muda oleh karena jarak usia yang jauh. Namun acara ini menolongnya untuk kembali belajar bagaimana memahami kebutuhan terbesar anak muda, yaitu ruang aman untuk memproses emosi.

Gayung Bersambut antara Penulis dan Penerbit

Dalam sesi ucapan terima kasih, Andre menyampaikan cerita singkat tentang proses peluncuran buku ini. Secara pribadi, Andre sudah lama meriset dan menulis tentang jurnal bagi remaja. Ia juga banyak berdiskusi dengan rekan-rekannya yang pengajar remaja di gereja dan mencobakan draft-nya pada anak-anak remaja binaan mereka.

Gayung bersambut, rupanya hal ini sejalan dengan kerinduan Literatur Perkantas Jatim untuk menyediakan bahan-bahan bacaan yang bisa menolong remaja dan kaum muda Kristen masa kini. Ketika berjumpa, tim Literatur Perkantas Jatim mendorong Andre untuk mulai membangun branding di sosial media, dengan bantuan kawan pegiat digital ministry lain.

Andre Pandilih bersama tim Literatur Perkantas Jatim

Acara ditutup dengan pesan hangat dari sang penulis:

“Kiranya Exploring My Emotions dapat menjadi sahabat dan safe place bagi banyak anak muda yang sedang bergumul memproses emosinya dan perlahan menemukan kasih Tuhan di tengah setiap rasa yang mereka alami.”


Teks: Andre Pandilih

Penyunting: Mima GP

Categories:
jperkantas

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Berkaca dari Yusuf
Natal hadir setiap tahun dalam hidup kita. Ada banyak hal yang bisa lewat di kepala
Aku Tidak Istimewa
Apakah kamu merasa hidupmu tidak istimewa? Apakah kamu merasa hidupmu biasa-biasa saja? Apakah kamu merasa
Dengan Cinta yang Terus Bersatu dan Penyertaan Tuhan
Dalam bayang-bayang terdengar suara samar-samar. Ia menggumam. Dalam layar pikirku ia terus hadir. Lelaki berjenggot
Jika Aku Menjadi Seekor Domba
Sepertinya, tidak ada tema natal yang lebih absurd daripada memikirkan jika aku menjadi seekor domba.
Avi
“Hati membutuhkan waktu lebih banyak untuk menerima apa yang sudah diketahui pikiran.” Iya, iya, aku
Satu Hari Lagi, Akan Kulalui di Dalam Penyertaan Tuhan
“Tetapi Maria menyimpan segala perkara itu dalam hatinya dan merenungkannya.” (Luk. 2:19)   Apa rasanya
Konjungsi Agung yang Sesungguhnya
Penelitian bertahun-tahun akhirnya membawa mereka pada titik ini. Perjalanan ke Yudea, hanya bertiga saja, mengejar
Bertemu Para Majus
Tahun ini tidak seperti tahun-tahun sebelumnya. Bila dijadikan sebuah buku, setiap bulannya menggambarkan satu bagian
Berjumpa dengan Yesus
Maka kembalilah gembala-gembala itu sambil memuji dan memuliakan Allah karena segala sesuatu yang mereka dengar
Burdened with Glorious Purpose
Bagaimana rasanya mengemban sebuah “beban panggilan yang mulia”? Mungkin kita bisa melihat teladan dari Yusuf