Bedah Buku “Kisah Besar Allah Bagi Dunia” bersama Mahasiswa Kristen Surabaya

Literatur Perkantas Jatim Berita Bedah Buku “Kisah Besar Allah Bagi Dunia” bersama Mahasiswa Kristen Surabaya
0 Comments

Kamis, 23 April 2026, Surabaya – Perpustakaan Perkantas Jawa Timur menjadi saksi diskusi mendalam dan penuh inspirasi dalam acara bedah buku karya Bonan Imanuel Ratmo berjudul Kisah Besar Allah Bagi Dunia. Acara yang dihadiri oleh mahasiswa Kristen Surabaya ini menjadi momen refleksi spiritual dan penguatan iman melalui literatur.

Dalam sesi pembukaan, Bonan Imanuel Ratmo, yang akrab disapa Kak Bonan—sebagai salah satu dari penulis buku tersebut, menjelaskan bahwa buku ini terdiri dari lima bab yang mengupas perjalanan murid-murid Yesus dalam memberitakan Injil. Melalui pendahuluan, ia menggarisbawahi bahwa murid-murid Yesus kebanyakan berasal dari kaum awam seperti nelayan, bukan dari golongan Ahli Taurat. Hal ini menunjukkan bahwa pemberitaan Injil tidak terbatas pada latar belakang seseorang, tetapi pada kesetiaan dan hati yang terbuka untuk dipakai Allah.

Kak Bonan juga menekankan pentingnya tiga elemen utama dalam penginjilan, yang ia sebut sebagai “3P”: Persahabatan, Platform, dan Pelatihan. Ketiga elemen ini menjadi fondasi bagi generasi muda untuk membangun hubungan yang bermakna, menyediakan wadah untuk berbagi iman, serta memperlengkapi diri melalui pelatihan rohani.

 

Diskusi dan Tanya Jawab yang Menggugah

Sesi diskusi interaktif dengan Kak Bonan menjadi highlight acara. Pertanyaan-pertanyaan dari para peserta menggambarkan antusiasme dan pergumulan mereka dalam menjalankan panggilan penginjilan di tengah dunia modern. Salah satu pertanyaan yang menarik datang dari Acha, seorang mahasiswa yang bertanya tentang alasan Kak Bonan menulis buku ini. Kak Bonan menjawab dengan penuh kehangatan bahwa ia memiliki kerinduan untuk mewariskan pengajaran rohani kepada generasi berikutnya melalui literatur, yang dianggapnya sebagai warisan paling aman.

Pertanyaan lain datang dari Naomi, yang mengungkapkan kekhawatirannya tentang menjaga batasan pergaulan demi menjaga kebiasaan baik. Kak Bonan memberikan perspektif baru dengan menekankan pentingnya membangun jembatan, bukan tembok, dalam penginjilan. Ia mendorong peserta untuk tidak takut mendekati orang dari latar belakang berbeda demi menyampaikan kasih Allah.

Salah satu momen paling reflektif adalah saat Marvin berbagi pengalaman penginjilan pertamanya. Sebagai mahasiswa yang sudah intens dalam pemuridan, Marvin mengakui awalnya merasa takut dianggap terlalu rohani dan ragu untuk mencampuri urusan keimanan orang lain. Namun, analogi yang disampaikan oleh kakak KTB-nya tentang Injil sebagai “obat kanker” menyadarkannya bahwa membagikan kabar baik adalah bentuk kasih kepada sesama. “Meski seadanya, setidaknya nama Yesus sudah disampaikan padanya,” kenangnya dengan penuh syukur.

Rachel, peserta lain, juga berbagi refleksi setelah mengikuti bedah buku ini. Ia mengaku sebelumnya merasa nyaman berada di lingkungan tanpa gesekan pandangan tentang keselamatan, namun buku ini membukakan matanya bahwa menutup-nutupi Injil demi menjaga kenyamanan diri adalah perbuatan yang tidak benar. “Sebelumnya, bahkan aku sempat ragu akan diriku, apakah benar Allah memakai aku untuk melakukan penginjilan? Tetapi aku kembali diyakinkan tentang rencana Kasih Allah yang sudah aku terima. Dan itu seharusnya aku gunakan untuk menjadi bahan bakar penginjilanku,” ujar Rachel dengan semangat.

 

Inspirasi untuk Generasi Muda

Acara bedah buku ini tidak hanya memberikan wawasan baru tentang penginjilan tetapi juga memotivasi generasi muda Kristen untuk berani melangkah keluar dari zona nyaman mereka. Kak Bonan menutup sesi dengan pesan mendalam bahwa penginjilan bukanlah tentang memenangkan perdebatan, melainkan mengundang orang lain ke dalam kisah Allah.

Melalui diskusi ini, peserta diajak untuk memahami bahwa penginjilan adalah panggilan setiap orang percaya, terlepas dari latar belakang atau kemampuan mereka. Dengan membangun persahabatan yang tulus, menyediakan platform untuk berbagi iman, dan terus memperlengkapi diri melalui pelatihan rohani, generasi muda Kristen di Surabaya diharapkan mampu menjadi terang bagi dunia.

Acara ini menjadi bukti nyata bahwa literatur rohani seperti Kisah Besar Allah Bagi Dunia memiliki kekuatan untuk mengubah cara pandang seseorang terhadap panggilan iman mereka. Semoga semakin banyak generasi muda yang terinspirasi untuk memberitakan kabar baik dan membawa dampak positif bagi lingkungan mereka.


Penulis: Naomi B.
Penyunting: Yemima GP

Categories:
jperkantas

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Memahami Peran Kaum Muda dalam Kisah Besar Allah Bagi Dunia
Pada Jumat, 10 April 2026, sebuah momen istimewa terjadi di dunia literatur Kristen Indonesia. Buku
Roadshow Bali: Membaca Dunia, Menyuarakan Kabar Baik
Bali kembali menjadi tuan rumah kegiatan edukasi literasi yang inspiratif melalui Roadshow Literasi bertema “Membaca
Literacy Experiment Class: Membangun Generasi Gemar Membaca
Surabaya, 2 April 2026 – Dalam rangka memperingati International Children Book Day, Literatur Perkantas Jatim
Roadshow Literasi Kediri: Belajar Teknik Copywriting Bersama Mahasiswa
Kediri, 7 Maret 2026 – Rumah Pemuridan Perkantas Kediri menjadi saksi dari semangat belajar 13