Pedagogi Yesus: Menemukan Spirit Khotbah di Bukit dalam “Pendidikan Kaum Tertindas”

Literatur Perkantas Jatim Blog Pedagogi Yesus: Menemukan Spirit Khotbah di Bukit dalam “Pendidikan Kaum Tertindas”
0 Comments

Bisakah kita menghubungkan Paulo Freire dengan Yesus? Tampaknya, justru ini yang saya temukan ketika membaca Pendidikan Kaum Tertindas.

Saat mulai membaca buku Paulo Freire yang berjudul Pedagogy of the Oppressed, atau Pendidikan Kaum Tertindas, mulai dari judulnya, ada kesan yang cukup “ndakik-ndakik”. Mungkin ada banyak jargon yang baru akan kita kenal. Namun nyatanya, buku ini beranjak dari pergumulan Freire sebagai kelas menengah yang pernah terjatuh secara ekonomi karena krisis negaranya, dan karenanya membawanya lebih dekat dengan pergumulan rekan-rekan yang termarginalkan. Metode di buku ini membantu pengentasan buta huruf di Brazil dan dipakai di berbagai gerakan aktivisme Dunia Ketiga.

Cobalah baca buku ini dengan pengalaman konteks masing-masing sebagai pendidik ataupun terdidik, guru ataupun murid. Kita akan dapat merefleksikan bahwa kunci dari terasa keringnya pendidikan akademis yang membesarkan kita adalah “dehumanisasi”. Secara formal, banyak bagian dari pendidikan kita gagal memanusiakan, hanya untuk mencetak sekrup-sekrup baru kapitalisme.

Ada desain pendidikan yang memang dirancang untuk membodohi masyarakat, menumpulkan pola pikir, dan melemahkan upaya kritis supaya penindas bisa terus menindas. Paulo Freire menyebut sistem pendidikan yang menjadi instrumen penindasan ini sebagai “banking concept of education“. Pendidikan berkonsep bank, celengan, wadah, toples, tempat untuk menimbun dan menyimpan sebisa-bisanya supaya bisa mudah tunduk serta siap sedia menjadi sekrup kapitalisme.

Salah satu poin penting pendidikan berbasis “banking” ini adalah dengan menerapkan hierarki yang terlalu gamblang antara guru dan murid. Guru tahu segalanya, murid tidak tahu apa-apa. Guru memberi perintah, murid taat. Guru memberikan tugas, murid mengerjakan dan mengumpulkan. Maka terbangunlah industri yang melanggengkan guru yang terikat materi yang diatur ketat oleh pemodal dan murid yang mencoba mendapatkan nilai sebagus mungkin dengan menghalalkan segala cara.

Perlawanan terhadap sistem seperti ini adalah pendidikan berbasis hadap-masalah (problem-posing). Guru dan murid saling mengakui ada kontradiksi antara keberadaan mereka, dan bekerja bersama-sama untuk berespons terhadap masalah ini. Bila berjalan baik, batas antara guru dan murid akan mengabur. Semua belajar sekaligus diajar. Pendidikan jadi memanusiakan, pemuridan pun jadi menapak tanah karena sifatnya dialogis, alih-alih antidialogis.

Ada dua poin besar yang mungkin bisa diangkat soal pendidikan dari buku ini.

Yang pertama, buku ini menolong kita berefleksi, bagaimana sih bayangan pendidikan yang menyenangkan, membebaskan dan membuat kita merasa “penuh”? Refleksi seperti ini akan menolong kita mulai memahami jargon-jargon yang banyak dibahas di buku ini seperti penindasan, dehumanisasi, praksis, pembebasan, aksi revolusioner, dan sebagainya.

Pendidikan yang menyenangkan, bisa jadi, adalah yang demikian;

> Menemui banyak “guru” yang tak terduga, kita pun secara tak terduga saling menjadi “guru”
> Kerendahan hati saling belajar
> Dibebaskan saling memfasilitasi pengetahuan
> Menghargai keunikan pembelajaran dan pencapaian yang subjektif
> Timbul penghargaan akan kemanusiaan masing-masing
> Memantik rasa haus akan memahami
> Menggerakkan kegelisahan untuk berbuat, dan banyak lagi.

Yang kedua, kita akan diundang berefleksi, sebenarnya pendidikan seperti ini, yang katanya memberdayakan, memampukan, & membebaskan, buat apa sih? Kenapa kita perlu mengupayakannya? Demi “kemajuan”? Memangnya “kemajuan”/”progress” itu perlu?” Apa imajinasi kita soal dunia yang “maju” lewat pendidikan yang membebaskan?

Bisa jadi, setelah membaca buku ini, kita akan memahami bahwa dunia yang “maju” itu adalah dunia ketika:

  • > Seorang perempuan, anak-anak, maupun orang dari posisi marjinal bisa menjalani aktivitas tanpa ketakutan dan kecemasan didiskriminasi.
  • > Seseorang dapat tercukupi kebutuhan dan kesenangannya tanpa harus khawatir karena uang hanya sedikit. Hidup cukup, bisa menanam, beternak, membaca, berkarya tanpa beban harus mengikuti tuntutan gaya hidup khas kapitalisme.
  • > Orang-orang dengan disabilitas dan kebutuhan khusus mendapat tempat setara,  tidak diperlakukan maupun ditatap dengan sebelah mata, karena setiap orang terus belajar berempati dan menghargai kerapuhan dan kekuatan masing-masing.
  • > Pertanyaan-pertanyaan yang sulit dihadapi, dibicarakan, dan tidak dibungkam, karena ruang untuk berdialog dan berbagi terbuka lebar.
  • > Tidak ada dikotomi guru dan murid, sehingga semuanya adalah pembelajar yang saling mengisi ketidaktahuan masing-masing maupun memeluk kegagalan pun keberhasilan memahami.
  • > Apa yang dipaparkan Yesus dalam Khotbah di Bukit (Matius 5-7) sungguh terlaksana, melampaui kemustahilan dan kebingungan kita yang ketika menyimak ayat-ayat Khotbah di Bukit berpikir, “kok kelihatannya mustahil sekali ya Kerajaan Allah seperti ini?”

 

Membaca Pendidikan Kaum Tertindas, herannya, akan terasa seperti membaca elemen Khotbah di Bukit. Khotbah di Bukit pun, bisa jadi, adalah pedagogi Yesus bagi yang tertindas.

Lalu siapa penindas dan yang tertindas? Kita mungkin bisa menjadi bagian dari keduanya. Kita adalah korban sistem pendidikan yang menindas dan meneruskan penindasan itu kepada orang-orang yang kita didik dengan kedok “pemuridan”, “pemberdayaan”, “pembinaan”, “mentoring”, maupun “advokasi”.

Coba imajinasikan pendidikan yang kita anggap menyenangkan, dan percayalah, kita akan mendapatkan percikan rasa antusias mengingat bagaimana kita bisa sampai memahami hal-hal yang membuat kita antusias sampai sekarang. Bukankah itu pengalaman yang membebaskan dan menggerakkan?

Dalam kata-kata Freire, praksis hadir dari aksi dan refleksi. Kehausan memahami menghasilkan kegelisahan, kesadaran, dan keinginan bergerak. Mungkin di situlah mengapa pembebasan terasa menakutkan: bagaimana bila kunci dari praksis yang Freire maksud ini memang bukanlah pada kita yang punya privilese, melainkan mereka yang banyak bergumul dengan hidupnya langsung di lapangan?

Maka kita perlu belajar rendah hati dan mengizinkan berbagai orang dan hal di sekitar kita, bahkan yang remeh sekalipun, menjadi guru. Tidak perlu kita berusaha menjadi pahlawan. Belajar saja menjadi saluran berkat yang memanusiakan sesamanya.


Penulis: Budi* (Jakarta)
Penyunting: Yemima GP

(*: penulis adalah tim dari Rima Rilis)

Categories:
jperkantas

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Berkaca dari Yusuf
Natal hadir setiap tahun dalam hidup kita. Ada banyak hal yang bisa lewat di kepala
Aku Tidak Istimewa
Apakah kamu merasa hidupmu tidak istimewa? Apakah kamu merasa hidupmu biasa-biasa saja? Apakah kamu merasa
Dengan Cinta yang Terus Bersatu dan Penyertaan Tuhan
Dalam bayang-bayang terdengar suara samar-samar. Ia menggumam. Dalam layar pikirku ia terus hadir. Lelaki berjenggot
Jika Aku Menjadi Seekor Domba
Sepertinya, tidak ada tema natal yang lebih absurd daripada memikirkan jika aku menjadi seekor domba.
Avi
“Hati membutuhkan waktu lebih banyak untuk menerima apa yang sudah diketahui pikiran.” Iya, iya, aku
Satu Hari Lagi, Akan Kulalui di Dalam Penyertaan Tuhan
“Tetapi Maria menyimpan segala perkara itu dalam hatinya dan merenungkannya.” (Luk. 2:19)   Apa rasanya
Konjungsi Agung yang Sesungguhnya
Penelitian bertahun-tahun akhirnya membawa mereka pada titik ini. Perjalanan ke Yudea, hanya bertiga saja, mengejar
Bertemu Para Majus
Tahun ini tidak seperti tahun-tahun sebelumnya. Bila dijadikan sebuah buku, setiap bulannya menggambarkan satu bagian
Berjumpa dengan Yesus
Maka kembalilah gembala-gembala itu sambil memuji dan memuliakan Allah karena segala sesuatu yang mereka dengar
Burdened with Glorious Purpose
Bagaimana rasanya mengemban sebuah “beban panggilan yang mulia”? Mungkin kita bisa melihat teladan dari Yusuf